Penyakit Anemia

Penyakit Anemia merupakan salah satu penyakit yang mengakibatkan kepala menjadi pusing karena darah tidak normal.berikut penyebab anemia,gejala anemia,dan diagnosa.

Anemia (dalam bahasa Yunani: Tanpa darah) adalah keadaan dimana jumlah sel darah merah atau jumlah hemoglobin (protein pembawa oksigen) dalam sel darah merah berada dibawah normal.

Sel darah merah mengandung hemoglobin, yang memungkinkan mereka mengangkut oksigen dari paru-paru dan mengantarkannya ke seluruh bagian tubuh.

Anemia menyebabkan berkurangnya jumlah sel darah merah atau jumlah hemoglobin dalam sel darah merah, sehingga darah tidak dapat mengangkut oksigen dalam jumlah sesuai yang diperlukan tubuh
Penyebab Anemia

Penyebab umum dari anemia:
o
+ Perdarahan hebat
+ Akut (mendadak)
+ Kecelakaan
+ Pembedahan
+ Persalinan
+ Pecah pembuluh darah
+ Kronik (menahun)
+ Perdarahan hidung
+ Wasir (hemoroid)
+ Ulkus peptikum
+ Kanker atau polip di saluran pencernaan
+ Tumor ginjal atau kandung kemih
+ Perdarahan menstruasi yang sangat banyak
o Berkurangnya pembentukan sel darah merah
+ Kekurangan zat besi
+ Kekurangan vitamin B12
+ Kekurangan asam folat
+ Kekurangan vitamin C
+ Penyakit kronik
o
+ Meningkatnya penghancuran sel darah merah
+ Pembesaran limpa
+ Kerusakan mekanik pada sel darah merah
+ Reaksi autoimun terhadap sel darah merah:
# Hemoglobinuria nokturnal paroksismal
# Sferositosis herediter
# Elliptositosis herediter
+ Kekurangan G6PD
+ Penyakit sel sabit
+ Penyakit hemoglobin C
+ Penyakit hemoglobin S-C
+ Penyakit hemoglobin E
+ Thalasemia
Gejala

Gejala-gejala yang disebabkan oleh pasokan oksigen yang tidak mencukupi kebutuhan ini, bervariasi. Anemia bisa menyebabkan kelelahan, kelemahan, kurang tenaga dan kepala terasa melayang. Jika anemia bertambah berat, bisa menyebabkan stroke atau serangan jantung.
Diagnosa
o Pemeriksaan darah sederhana bisa menentukan adanya anemia. Persentase sel darah merah dalam volume darah total (hematokrit) dan Trombosit

Pemeriksaan darah lengkap adalah pemeriksaan yang dilakukan pada darah manusia dengan menghitung seluruh komponen pembentuk darah. Saat ini pemeriksaan darah lengkap dilakukan dengan menggunakan mesin khusus. Komponen pembentuk darah antara lain :
o Sel darah merah (RBC).
o Hematokrit.
o Hemoglobin.
o Sel darah putih (WBC).
o Komponen sel darah putih.
o Trombosit/Platelet.

Hanya tiga teratas dari keenam komponen darah ini yang berperanan dalam mendeteksi terjadinya anemia.

Apakah arti nilai hitung sel darah merah?

Sel darah merah (RBC) merupakan komponen darah yang terbanyak dalam satu mililiter darah. Setiap orang memiliki jutaan bahkan miliaran sel darah merah dalam tubuhnya. Penghitungan sel darah merah digunakan untuk menentukan apakah kadar sel darah merah rendah (anemia) atau tinggi (polisitemia).

Pada perhitungan sel darah merah, akan dinilai jumlah dan ukuran dari sel darah merah. Bentuk sel darah merah pun akan dievaluasi di bawah mikroskop. Segala informasi mulai dari jumlah, ukuran dan bentuk dari sel darah merah akan berguna dalam mendiagnosa suatu anemia. Juga pada pemeriksaan ini dapat diketahui jenis anemia berikut kemungkinan penyebabnya.

Apakah yang dimaksud dengan hematokrit?

Nilai hematokrit merupakan cara yang paling sering digunakan untuk menentukan apakah jumlah sel darah merah terlalu tinggi, terlalu rendah atau normal. Hematokrit sejatinya merupakan ukuran yang menentukan seberapa banyak jumlah sel darah merah dalam satu mililiter darah atau dengan kata lain perbandingan antara sel darah merah dengan komponen darah yang lain.

Bagaimana menghitung jumlah hematokrit?

Hematokrit dapat dihitung dengan mengambil sampel darah pada jari tangan atau diambil langsung pada vena yang terletak pada lengan.

Sel darah merah yang terdapat dalam sampel kemudian diendapkan dengan cara memutarnya menggunakan alat sentrifugal. Endapan ini kemudian di presentasekan dengan jumlah keseluruhan dari darah yang terdapat dalam tabung, nilai inilah yang dinamakan nilai hematokrit.

Apakah hemoglobin itu?

Hemoglobin adalah pigmen yang membuat sel darah berwarna merah yang pada akhirnya akan membuat darah manusia berwarna merah. Menurut fungsinya, hemoglobin merupakan media transport oksigen dari paru paru ke jaringan tubuh. Seperti kita ketahui bersama, oksigen merupakan bagian terpenting dari metabolisme tubuh untuk menghasilkan energi. Hemoglobin juga berfungsi membawa karbondioksida hasil metabolisme dari jaringan tubuh ke paru paru untuk selanjutnya dikeluarkan saat bernafas.

Apakah arti dari kadar hemoglobin yang rendah?

Orang dengan kadar hemoglobin yang rendah disebut dengan istilah anemia. Saat kadar hemoglobin rendah maka jumlah sel darah merah pun akan rendah. Demikian pula halnya dengan nilai hematokrit.

Apa akibatnya bila terjadi anemia?

Transportasi oksigen akan terganggu dan jaringan tubuh orang yang anemia akan mengalami kekurangan oksigen guna menghasilkan energi.

Bagaimana gejala anemia?

Orang yang mengalami anemia akan merasa cepat lelah, lemas, pucat, gelisah dan terkadang sesak.

Apa yang menyebabkan anemia?

Berikut adalah beberapa penyebab anemia yang paling sering ditemukan.

Kekurangan zat besi

Perempuan akan lebih mudah menderita anemia bila dibandingkan dengan laki laki karena perempuan mengalami kehilangan darah tiap bulan saat menstruasi. Perempuan juga rentan mengalami kekurangan zat besi.

Pada orang dewasa, kekurangan zat besi sering disebabkan oleh karena kehilangan darah khronis seperti menstruasi. Kehilangan darah khronis juga bisa disebabkan oleh karena kanker terutama kanker pada usus besar.

Anemia juga bisa disebabkan oleh karena perdarahan usus yang disebabkan oleh karena konsumsi obat obatan yang mengiritasi usus.Obat yang termasuk golongan ini terutama obat NSAID.

Pada bayi dan anak anak, anemia kekurangan zat besi biasanya disebabkan karena kurangnya asupan makanan yang mengandung zat besi.

Perdarahan

Perdarahan yang banyak saat trauma baik di dalam maupun di luar tubuh akan menyebabkan anemia dalam waktu yang relatif singkat. Perdarahan dalam jumlah banyak biasanya terjadi pada maag khronis yang menyebabkan perlukaan pada dinding lambung.

Genetik

Kelainan herediter atau keturunan juga bisa menyebabkan anemia. Kelainan genetik ini terutama terjadi pada umur sel darah merah yang terlampau pendek sehingga sel darah merah yang beredar dalam tubuh akan selalu kekurangan. Anemia jenis ini dikenal dengan nama sickle cell anemia. Gangguan genetik juga bisa menimpa hemoglobin yang mana produksi hemoglobin menjadi sangat rendah. Kelainan ini kita kenal dengan nama thalasemia.

Kekurangan vitamin B12

Anemia yang diakibatkan oleh karena kekurangan vitamin B12 dikenal dengan nama anemia pernisiosa.

Kekurangan asam folat

Kekurangan asam folat juga sering menyebabkan anemia terutama pada ibu ibu yang sedang hamil.

Pecahnya dinding sel darah merah

Anemia yang disebabkan oleh karena pecahnya dinding sel darah merah dikenal dengan nama anemia hemolitik. Reaksi antigen antibodi dicurigai sebagai biang kerok terjadinya anemia jenis ini.

Gangguan sumsum tulang

Sumsum tulang sebagai pabrik produksi sel darah juga bisa mengalami gangguan sehingga tidak bisa berfungsi dengan baik dalam menghasilkan sel darah merah yang berkualitas. Gangguan pada sumsum tulang biasanya disebabkan oleh karena mestatase sel kanker dari tempat lain.

Penyebab anemia yang lain masih banyak, cuma karena keterbatasan tempat maka saya hanya menulis yang sering dijumpai saja.

Bagaimana mengobati anemia?

Seperti halnya penyakit lain, pengobatan anemia juga harus ditujukan pada penyebab terjadinya anemia. Misalnya anemia yang disebabkan oleh perdarahan pada usus maka perdarahan itu harus kita hentikan untuk mencegah berlanjutnya anemia. Jika memang diperlukan, operasi dapat dilakukan pada keadaan tertentu.

Suplemen besi diperlukan pada anemia yang disebabkan oleh karena kekurangan zat besi. Pemberian suntikan vitamin B12 diperlukan untuk mengkoreksi anemia pernisiosa. Transfusi darah merupakan pilihan untuk anemia yang disebabkan oleh perdarahan hebat.

Anemia Penyebab & Penanggulangannya

Tanpa disadari banyak diantara kita entah anak-anak, dewasa, maupun lansia terserang anemia. Mungkin penyakit ini dianggap penyakit sepele, padahal bila dibiarkan dalam waktu lama dampaknya akan buruk sekali. Anemia merupakan keadaan dimana kadar hemoglobin dalam darah sangat rendah, yakni kurang dari 12g/dl.

Penyebabnya antara lain:
kekurangan zat besi, dengan tanda-tanda kelelahan, pada waktu bekerja sering sesak napas, sakit kepala, gelisah, kurang konsentrasi, berdebar-debar, bengkak pada siku-siku. Jika pada suatu saat kadar hemoglobin turun drastis dapat terjadi kerapuhan kuku dan luka-luka pada sudut mulut.

Cara penanggulangannya:
Dapat diberikan zat besi yang banyak tersedia di pasaran dalam bentuk tablet minum. Beberapa dikombinasi denga vitamin C agar mudah penyerapannya. Yang tidak kalah penting adalah peningkatan diet dengan makanan yang mengandung zat besi seperti daging, hati, telur, bayam dll.
Kekurangan Vitamin B12 dan Asam folat. Paling sering diderita para lansia, disebabkan gangguan penyerapan vitamin B12 atau kekurangan asam folat. Gejala timbul perlahan-lahan dan baru terlihat jika anemia menjadi berat misalnya warna kulit seperti jeruk, lidah nyeri, kekakuan pada tangan dan kaki. Penanggulangan kekurangan vitamin B12 dapat diatur dengan suntikan setiap hari, kemudian seminggu sekali, bulanan, hingga akhirnya tiga bulan. Asam folat dapat diberikan dalam tablet, juga dari bahan alamiah seperti hati serta sayuran hijau.

Namun menurut penelitian

Dari penilitian yang dilakukan oleh para kalangan ahli kesehatan penderita yang mengalami anemia akan merasa cepat lelah, lemas, pucat, gelisah dan terkadang sesak. Berikut beberapa penyebab anemia yang paling sering ditemukan yang disampaikan oleh dr Sintya dari Klinik Avicena kepada Upeks, Senin (23/2).

Menurutnya, perempuan akan lebih mudah menderita anemia bila dibandingkan dengan laki laki karena perempuan mengalami kehilangan darah tiap bulan saat menstruasi. Perempuan juga menjadi lebih rentan mengalami kekurangan zat besi.
Pada orang dewasa, kekurangan zat besi sering disebabkan oleh karena kehilangan darah khronis seperti menstruasi. Kehilangan darah kronis juga bisa disebabkan oleh karena kanker terutama kanker pada usus besar.”Anemia juga bisa disebabkan oleh karena perdarahan usus yang disebabkan oleh karena konsumsi obat obatan yang mengiritasi usus. Obat yang termasuk golongan ini terutama obat NSAID”, ujarnya.
Kelainan herediter atau keturunan lanjut dr Sintya, juga bisa menyebabkan anemia. Kelainan genetik ini terutama terjadi pada umur sel darah merah yang terlampau pendek sehingga sel darah merah yang beredar dalam tubuh akan selalu kekurangan. Anemia jenis ini dikenal dengan nama sickle cell anemia. Gangguan genetik juga bisa menimpa hemoglobin yang mana produksi hemoglobin menjadi sangat rendah. Kelainan ini kita kenal dengan nama thalasemia.
Anemia yang diakibatkan oleh karena kekurangan vitamin B12 dikenal dengan nama anemia pernisiosa. Kekurangan asam folat juga sering menyebabkan anemia terutama pada ibu ibu yang sedang hamil.
Selain itu, anemia yang disebabkan oleh karena pecahnya dinding sel darah merah dikenal dengan nama anemia hemolitik. Reaksi antigen antibodi dicurigai sebagai biang kerok terjadinya anemia jenis ini. Sumsum tulang sebagai pabrik produksi sel darah juga bisa mengalami gangguan sehingga tidak bisa berfungsi dengan baik dalam menghasilkan sel darah merah yang berkualitas. Gangguan pada sumsum tulang biasanya disebabkan oleh karena mestatase sel kanker dari tempat lain.

BANYAK MENYERANG WANITA
Faktor utama penyebab anemia adalah kekurangan zat besi yang menjadi salah satu unsur penting dalam memproduksi hemoglobin. Kekurangan zat ini, bisa karena penderita memang kurang mengonsumsi makanan yang mengandung zat besi seperti sayuran hijau, ikan, hati, telur, dan daging. Atau bisa juga mereka sudah mengonsumsi makanan yang banyak mengandung zat besi, tetapi terjadi gangguan absorsi dalam usus karena ada cacing atau gangguan pencernaan. Karena faktor utama anemia karena kekurangan zat besi, anemia sering disebut anemia defisiensi besi (ADB).

HINDARI MINUM TEH SETELAH MAKAN
Meski tidak banyak, faktor genetik juga ikut menyumbang penyebab anemia. Ada yang mempunyai kelainan gen, sehingga umur sel darah merah di bawah umur rata-rata yaitu 120 hari.
Banyaknya timbal yang terserap oleh tubuh juga bisa mengganggu kerja hemoglobin dalam mengangkut oksigen. Disarankan tidak minum teh, kopi, dan susu setelah makan. Ketiga jenis minuman tersebut sebaiknya diminum paling tidak 1,5 – 2 jam setelah makan.
Ada beberapa cara untuk mengatasi anemia. Kalau sudah terkena dalam kasus ringan, hal yang sebaiknya dilakukan adalah mengubah pola makan. Artinya makanan yang diasup adalah makanan yang mengandung banyak zat besi. Tetapi dalam kasus yang lebih berat, biasanya mereka disarankan makanan suplemen zat besi dalam kurun waktu tertentu.

YANG HARUS DILAKUKAN
1. Menyempatkan diri untuk makan pagi dengan menu seimbang.
2. Makanan yang dikonsumsi harus lebih bervariasi seperti nasi, lauk, sayur, dan buah.
3. Hindari minum teh, kopi, dan susu sehabis makan karena mengganggu absorbsi zat besi.
4. Setelah makan, disarankan makan buah atau vitamin C, karena vitamin ini bisa membantu penyerapan zat besi dalam tubuh.
5. Olah raga teratur.
6. Usahakan anak kita membawa bekal makanan dari rumah, sehingga orangtua bisa mengontrol makanan yang diasup anak.
7. Perlu kerjasama semua pihak termasuk kantin sekolah untuk menjual makanan atau minuman yang bergizi.

DARI SUMBER YANG BERBEDA MENYATAKAN
Perempuan dan Anemia Logo Acrobat Unduh versi PDF

Oleh: Debra Johnson, NP, PA-C dan Judith Currier, MD, Women Alive, Musim Semi 1999

Anemia sangat umum ditemukan terkait infeksi HIV. Ada banyak alasan yang mungkin; jumlah sel darah merah yang rendah, cadangan vitamin B12 yang rendah, kekurangan zat besi, tiroid yang tidak berfungsi secara benar, kehilangan banyak darah saat haid, tingkat hormon yang rendah, dampak pengobatan atau infeksi yang menyerang sumsum tulang (mis: B19 parvo, MAC, atau infeksi jamur berat).

Faktor risiko

Sebanyak 70-80 persen pasien terinfeksi HIV mengembangkan anemia pada suatu saat selama infeksinya. Beberapa uji klinis memberi kesan bahwa anemia merupakan risiko independen terhadap penurunan ketahanan hidup pasien dengan penyakit HIV. Tidak jelas apakah anemia merupakan satu-satunya penyebab menurunnya ketahanan hidup atau apakah anemia menjadi bagian dari penyakit oportunistik yang menyertainya sepertipenyakit Mycobacterium avium atau virus sitomegalo. Sebuah penelitian yang dilakukan di Fakultas Kedokteran Universitas Johns Hopkins menemukan bahwa anemia adalah faktor risiko kematian yang cukup besar pada pasien HIV.

Sering kali perempuan menjadi begitu terbiasa terhadap rasa lelah sehingga mereka mungkin tidak pernah melaporkannya ketika mengunjungi dokter. Kadang-kadang anemia begitu lazim ditemukan, sehingga para dokter mungkin tidak menyadari dampak yang dapat diakibatkannya pada tingkat tenaga perempuan.

Apakah itu anemia?

Anemia adalah jumlah sel darah merah yang rendah. Sel darah merah, juga disebut eritrosit, dibentuk di sumsum tulang, dengan tugas untuk membawa oksigen dari paru ke jaringan. Pembentukan sel darah merah baru tergantung pada hormon alami yang disebut eritropoitin (EPO, yang dibentuk dan dikeluarkan dari ginjal). Orang yang menderita anemia kurang mampu membawa oksigen di dalam darahnya dan hal ini dapat mengakibatkan rasa lelah, kesulitan bernapas, peningkatan denyut jantung dan pucat.

Darah kita (sel darah merah) dapat langsung dihitung atau diperkirakan dengan menggunakan hematokrit atau hemoglobin (Hb). Pemeriksaan ini umumnya disarankan oleh dokter kita setiap satu sampai tiga bulan, tergantung apakah memakai obat-obatan. Penyakit dan pengobatan tertentu dapat menyebabkan Hb kita menurun di bawah batas normal.

Segalanya mengenai darah

Apabila Hb kita menurun di bawah batas tertentu, tubuh kita mencoba mengatasinya dengan meningkatkan denyut jantung kita. Ketika jantung kita berdetak lebih cepat, hal ini memungkinkan lebih banyak darah dan oksigen yang dialirkan ke seluruh tubuh. Paru kita juga dapat menyebabkan kita bernapas lebih cepat untuk membawa oksigen ke tubuh kita. Pembuluh darah tertentu mengembang untuk memungkinkan lebih banyak darah yang mengandung oksigen masuk ke dalam jaringan. Pembuluh darah lain berusaha untuk menutup, untuk menyimpan oksigen. Pengalihan darah semacam ini dapat menyebabkan kulit kita tampak pucat dan dingin saat disentuh. Tetapi hal ini memungkinkan tubuh kita untuk menyediakan oksigen ke organ yang lebih penting. Dengan kegiatan yang meningkat, tubuh kita membutuhkan lebih banyak oksigen sehingga mengakitbatkan kelelahan, kelemahan, jantung berdebar, sesak napas, dan gejala lain.

Penyebab anemia

Pengobatan sering memicu anemia. Beberapa obat penyebab anemia termasuk tetapi tidak terbatas pada isoniazid, rifampisin, dapson, sulfonamid, nitrofurantoin, dilantin, fenobarbital, alkohol, penisilin, kotrimoksasol, AZT, gansiklovir, dan amfoterisin. Sering kali, menghentikan obat yang mengganggu dapat memulihkan anemia. Tetapi, apabila obat tersebut diperlukan untuk masalah lain, harus ditemukan cara lain untuk menghadapi anemia tersebut. Kekurangan vitamin seperti vitamin B12, asam folik, vitamin A, vitamin B6, vitamin C, vitamin E dan kekurangan zat besi adalah beberapa unsur penyebab anemia. Sebagian besar jenis anemia ini dapat diperbaiki dengan memakai suplemen.

Anemia megaloblastik berarti bahwa sel darah merah besar dan pucat. Sering kali gejala awal anemia megaloblastik adalah volume sel rata-rata (MCV) tinggi, di atas 98-115. AZT dan d4T dapat memicu peningkatan MCV yang palsu tanpa mengakibatkan anemia. Neuropati periferal dapat disebabkan oleh kekurangan vitamin B12 dan gejalanya dapat dipulihkan dengan memberi tambahan vitamin B12. Infeksi HIV dapat memicu sedikit kasus anemia yang parah. Antibodi HIV diperkirakan bekerja bertentangan dengan faktor yang intrinsik (sebuah protein tubuh membutuhkan penyerapan B12 yang cukup). Hal ini dapat mengarah pada kekurangan vitamin B12. Tanpa faktor yang intrinsik, tubuh kita tidak dapat menyerap vitamin B12 dari makanan yang kita makan dan selanjutnya mungkin kita membutuhkan vitamin B12.

Kekurangan zat besi

Penyebab utama lain yang dapat memicu anemia dan kelelahan adalah kekurangan zat besi yang dikenal sebagai mikrositosis (MCV di bawah 98). Zat besi adalah mineral yang memungkinkan oksigen diedarkan dalam sel darah merah. Banyak perempuan kekurangan zat besi. Pola makan yang buruk, dan haid yang parah dapat menyebabkan kekurangan zat besi setiap bulan. Haid yang sering atau berat dapat lazim terjadi pada perempuan yang terinfeksi HIV. Hal ini mengakibatkan kehilangan darah dalam jumlah besar dan anemia. Tablet zat besi dapat dipakai untuk menyembuhkan anemia jenis ini. Tablet tersebut harus dipakai dua sampai tiga kali sehari dengan makanan. Efek dari tablet zat besi adalah tinja yang berwarna lebih gelap.

Sumsum tulang yang lemah

Penyebab anemia yang terakhir adalah infeksi pada sumsum tulang. Apabila terjadi infeksi maka tidak ada ruang yang cukup dalam sumsum tulang untuk semua sel yang dibutuhkan. Sebagai akibatnya, sumsum tulang memperlamban produksi sel baru dan melemah, atau tidak dapat lagi memproduksi sel yang dibutuhkan untuk membawa oksigen ke seluruh organ. Beberapa infeksi yang dapat mengakibatkan kegagalan sumsum tulang adalah infeksi mikobakteri (MAC atau TB), infeksi jamur (kriptokokal, histoplasmosis) atau limfoma. Ini adalah infeksi yang biasa terjadi pada pasien AIDS lanjut. Biasanya infeksi ini dapat diobati secara berhasil, tetapi mungkin membutuhkan terapi rumatan untuk tetap menekan infeksi.

Hitung darah

Hitungan darah lengkap (CBC), dilakukan pada awal. Apabila hasilnya tidak normal, hitung retikulosit (sel darah merah muda), G6PD (apabila kita memakai dapson), zat besi, TIBC, ferritin, B12, folat dan tingkat EPO dapat diukur. Berdasarkan pada gambaran klinis, riwayat haid, olesan periferal termasuk MCV serta tes tinja untuk darah okult (perdarahan saluran GI) barangkali diperlukan. (Dengan kata lain, banyak sekali tes!)

Transfusi

Segala usaha harus dilakukan untuk mencari penyebab dasar anemia.

Transfusi harus dipertimbangkan apabila hemoglobin turun sampai di bawah 8 mg/dL atau pasien bergejala (selalu lemah atau sesak napas), dan tidak ada kontraindikasi lainnya. Upaya harus dilakukan untuk mencegah transfusi darah karena banyak efek samping dan biaya.

Pengobatan anemia dimulai dengan diagnosis penyebab dasarnya, apakah itu sebuah infeksi, kekurangan vitamin, kehilangan darah akibat haid berat, pola makan yang buruk atau hipotiroidisme. Apabila semua hasil tes adalah negatif dan kemungkinan kecil terjadinya infeksi, penyebab dasarnya mungkin adalah bukti adanya penyakit kronis terkait dengan HIV.

Anemia terkait HIV telah menunjukkan tanggapan terhadap penggantian EPO. Pemberian EPO (obat anemia) adalah yang terbaik untuk mendorong pembentukan sel darah merah pada perempuan dengan cadangan zat besi yang cukup dan tingkat albumin normal walau dalam kondisi EPO rendah (di bawah 500 mU/ml). Obat ini diberikan secara suntikan di bawah kulit dan dulu dilakukan tiga kali seminggu. Berdasarkan informasi yang baru, EPO dapat diberi sebanyak 40.000 unit di bawah kulit seminggu sekali. EPO biasanya menyebabkan retikulositosis yang diikuti dengan peningkatan Hb dan hematokrit setelah dua hingga enam minggu. [Catatan: EPO sangat mahal di Indonesia, sehingga jarang terajngaku.]

Di dalam beberapa penelitian, mereka yang mempunyai jumlah CD4 lebih rendah atau AIDS, mereka yang diobati untuk infeksi oportunistik, anemia, usia, transfusi darah atau terapi ART, penggunaan EPO dikaitkan dengan penurunan risiko kematian. Meskipun faktor lain mungkin belum dimasukkan, penggunaan EPO untuk pengobatan anemia dihubungkan dengan peningkatan ketahanan hidup pada penyakit HIV. Terapi EPO mungkin juga berperan sebagai pendukung pada beberapa pasien terinfeksi HIV dengan meningkatkan Hb, mengurangi kelelahan, dan mengurangi kebutuhan transfusi sel darah merah.

Anemia sudah umum

Sebagai kesimpulan, anemia umum ditemukan pada orang yang terinfeksi HIV dan mungkin sebagai faktor penyebab rasa kelelahan. Anemia dapat berperan penting dalam ketahanan dan mutu hidup Anda. Penting untuk mengetahui hitungan darah kita dan apakah kita mengalami anemia, sebaiknya kita membahas pilihan kita dengan dokter.
Artikel asli: Women and Anemia

Anemia Karena Kekurangan Vitamin B12
DEFINISI
Anemia Karena Kekurangan Vitamin B12 (anemia pernisiosa) adalah anemia megaloblastik yang disebabkan oleh kekurangan vitamin B12.

Selain zat besi, sumsum tulang memerlukan vitamin B12 dan asam folat untuk menghasilkan sel darah merah.
Jika kekurangan salah satu darinya, bisa terjadi anemia megaloblastik.

Pada anemia jenis ini, sumsum tulang menghasilkan sel darah merah yang besar dan abnormal (megaloblas).
Sel darah putih dan trombosit juga biasanya abnormal.

Anemia megaloblastik paling sering disebabkan oleh kekurangan vitamin B12 dan asam folat dalam makanan atau ketidakmampuan untuk menyerap vitamin tersebut.
Kadang anemia ini disebabkan oleh obat-obat tertentu yang digunakan untuk mengobati kanker (misalnya metotreksat, hidroksiurea, fluorourasil dan sitarabin).

PENYEBAB
Penyerapan yang tidak adekuat dari vitamin B12 (kobalamin) menyebabkan anemia pernisiosa.
Vitamin B12 banyak terdapat di dalam daging dan dalam keadaan normal telah diserap di bagian akhir usus halus yang menuju ke usus besar (ilium).

Supaya dapat diserap, vitamin B12 harus bergabung dengan faktor intrinsik (suatu protein yang dibuat di lambung), yang kemudian mengangkut vitamin ini ke ilium, menembus dindingnya dan masuk ke dalam aliran darah.
Tanpa faktor intrinsik, vitamin B12 akan tetap berada dalam usus dan dibuang melalui tinja.

Pada anemia pernisiosa, lambung tidak dapat membentuk faktor intrinsik, sehingga vitamin B12 tidak dapat diserap dan terjadilah anemia, meskipun sejumlah besar vitamin dikonsumsi dalam makanan sehari-hari.
Tetapi karena hati menyimpan sejumla besar vitamin B12, maka anemia biasanya tidak akan muncul sampai sekitar 2-4 tahun setelah tubuh berhenti menyerap vitamin B12.

Selain karena kekurangan faktor intrinsik, penyebab lainnya dari kekurangan vitamin B12 adalah:
– pertumbuhan bakteri abnormal dalam usus halus yang menghalangi penyerapan vitamin B12
– penyakit tertentu (misalnya penyakit Crohn)
– pengangkatan lambung atau sebagian dari usus halus dimana vitamin B12 diserap
– vegetarian.

GEJALA
Selain mengurangai pembentukan sel darah merah, kekurangan vitamin B12 juga mempengaruhi sistem saraf dan menyebabkan:
– kesemutan di tangan dan kaki
– hilangnya rasa di tungkai, kaki dan tangan
– pergerakan yang kaku.

Gejala lainnya adalah:
– buta warna tertentu, termasuk warna kuning dan biru
– luka terbuka di lidah atau lidah seperti terbakar
– penurunan berat badan
– warna kulit menjadi lebih gelap
– linglung
– depresi
– penurunan fungsi intelektual.

DIAGNOSA
Biasanya, kekurangan vitamin B12 terdiagnosis pada pemeriksaan darah rutin untuk anemia.

Pada contoh darah yang diperiksa dibawah mikroskop, tampak megaloblas (sel darah merah berukuran besar).
Juga dapat dilihat perubahan sel darah putih dan trombosit, terutama jika penderita telah menderita anemia dalam jangka waktu yang lama.

Jika diduga terjadi kekurangan, maka dilakukan pengukuran kadar vitamin B12 dalam darah.
Jika sudah pasti terjadi kekurangan vitamin B12, bisa dilakukan pemeriksaan untuk menentukan penyebabnya.

Biasanya pemeriksaan dipusatkan kepada faktor intrinsik:

1. Contoh darah diambil untuk memeriksa adanya antibodi terhadap faktor intrinsik.
Biasanya antibodi ini ditemukan pada 60-90% penderita anemia pernisiosa.
2. Pemeriksaan yang lebih spesifik, yaitu analisa lambung.
Dimasukkan sebuah selang kecil (selang nasogastrik) melalui hidung, melewati tenggorokan dan masuk ke dalam lambung.
Lalu disuntikkan pentagastrin (hormon yang merangasang pelepasan faktor intrinsik) ke dalam sebuah vena.
Selanjutnya diambil contoh cairan lambung dan diperiksa untuk menemukan adanya faktor intrinsik.

Jika penyebabnya masih belum pasti, bisa dilakukan tes Schilling.
Diberikan sejumlah kecil vitamin B12 radioaktif per-oral (ditelan) dan diukur penyerapannya.
Kemudian diberikan faktor intrinsik dan vitamin B12, lalu penyerapannya diukur kembali.
Jika vitamin B12 diserap dengan faktor intrinsik, tetapi tidak diserap tanpa faktor intrinsik, maka diagnosisnya pasti anemia pernisiosa.

PENGOBATAN
Pengobatan kekurangan vitamin B 12 atau anemia pernisiosa adalah pemberian vitamin B12.
Sebagian besar penderita tidak dapat menyerap vitamin B12 per-oral (ditelan), karena itu diberikan melalui suntikan.

Pada awalnya suntikan diberikan setiap hari atau setiap minggu, selama beberapa minggu sampai kadar vitamin B12 dalam darah kembali normal.
Selanjutnya suntikan diberikan 1 kali/bulan.

Penderita harus mengkonsumsi tambahan vitamin B12 sepanjang hidupnya.

PENCEGAHAN
Jika penyebabnya adalah asupan yang kurang, maka anemia ini bisa dicegah melalui pola makanan yang seimbang.

PRESTASI TURUN AKIBAT 5 L

Lelah, letih, lemah, lesu, lunglai. Inilah gejala anemia. Penyakit kurang darah ini banyak mengincar wanita dan anak-anak. Penyebabnya beragam, dari kurangnya asupan bergizi, diet ketat hingga cacingan.
R. Suryanto
Coba perhatikan putra-putri Anda. Jika belakangan ini mereka tampak tidak bersemangat dan kurang konsentrasi dalam belajar hingga nilai pelajarannya menurun, Anda perlu waspada. Sangat mungkin mereka terjangkit anemia alias kurang darah. Sebuah hasil penelitian terhadap 200 Sekolah Dasar di DKI Jakarta belum lama ini menunjukkan penderita anemia pada anak-anak mencapai 30 persen. Sebuah angka yang mengkhawatirkan!

Apa sih anemia itu? Anemia atau kurang darah adalah suatu kondisi di mana kadar hemoglobin (HB) seseorang di bawah normal. Untuk orang dewasa, batas normalnya 12 gr persen, sedangkan untuk balita dan ibu hamil 11 gr persen. “Kalau kita lihat dengan mikroskop pada penderita anemia, sel darah merah tidak merah benar dan ukurannya mengecil,” jelas dr Adi Sasongko, pengurus Yayasan Kusuma Buana yang banyak melakukan penelitian tentang anemia di sejumlah Sekolah Dasar ini.

Adi menambahkan, anemia berbeda dengan darah rendah. Kalau darah rendah yang menjadi ukuran adalah tekanan di dalam darah, bukan kadar hemoglobin. Hemoglobin ini berfungsi mendistribusikan oksigen ke seluruh tubuh seperti otot, jantung, usus, otak dan lain-lain. Artinya, kalau kadar HB berkurang, tentu akan mengurangi jumlah pasokan oksigen ke semua organ tubuh, sehingga bisa mengganggu kerja organ tersebut. “Misalnya kalau pasokan oksigen ke otak kurang, tentu kerja otak seperti berpikir atau konsentrasi juga akan terganggu,” jelas Adi.

Gejala-gejala anemia yang muncul terkenal dengan 5 L yaitu letih, lelah, lemah, lesu dan lunglai. Gejala lain yang bisa dilihat antara lain telapak tangan putih, selaput mata bagian bawah mata yang normalnya merah jambu menjadi pucat, mata berkunang-kunang dan daya tahan menurun. “Untuk memastikannya, segera periksa darah,” jelas staf pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini.

BANYAK MENYERANG WANITA
Faktor utama penyebab anemia adalah kekurangan zat besi yang menjadi salah satu unsur penting dalam memproduksi hemoglobin. Kekurangan zat ini, lanjut Adi, bisa karena penderita memang kurang mengonsumsi makanan yang mengandung zat besi seperti sayuran hijau, ikan, hati, telur, dan daging. “Atau bisa juga mereka sudah mengonsumsi makanan yang banyak mengandung zat besi, tetapi terjadi gangguan absorsi dalam usus karena ada cacing atau gangguan pencernaan,” jelas penggemar musik ini. Karena faktor utama anemia karena kekurangan zat besi, anemia sering disebut anemia defisiensi besi (ADB).

Menyinggung kasus cacing, Dokter Adi ingat pada penelitian anemia pada siswa-siswa Sekolah Dasar di Tangerang pada tahun 2000. Hasil penelitian itu terungkap bahwa 30 persen dari mereka terkena cacing tambang yang memang banyak mengganggu proses penyerapan mineral atau zat berguna dalam tubuh. “Dengan obat cacing memang bisa mengeluarkannya, tetapi kalau pola hidupnya tidak diubah, sama saja,” ujarnya.
Pendarahan hebat akibat operasi, kecelakaan atau menstruasi juga bisa membuat orang kekurangan darah. Fenomena ini menjawab mengapa wanita lebih banyak terkena anemia. Selain itu, wanita juga banyak yang melakukan diet ketat untuk menurunkan berat badannya. “Mereka mengurangi makan makanan yang bergizi seperti daging, telur dan lain-lain, sehingga asupan zat besi menjadi berkurang,” jelasnya.

HINDARI MINUM TEH SETELAH MAKAN
Meski tidak banyak, faktor genetik juga ikut menyumbang penyebab anemia. Ada yang mempunyai kelainan gen, sehingga umur sel darah merah di bawah umur rata-rata yaitu 120 hari. “Dengan makin pendeknya umur sel darah merah, tentu juga akan mengurangi jumlahnya,” jelas ayah 2 anak ini.

Banyaknya timbal yang terserap oleh tubuh juga bisa mengganggu kerja hemoglobin dalam mengangkut oksigen. Dokter asal Yogyakarta ini juga tidak menyarankan kita minum teh, kopi, dan susu setelah makan. Ketiga jenis minuman tersebut sebaiknya diminum paling tidak 1,5 – 2 jam setelah makan. “Ketiga minuman itu mengandung zat tanin yang bisa mengganggu absorbsi zat besi dalam tubuh,” jelas Adi.

Ada beberapa cara untuk mengatasi anemia. Kalau sudah terkena dalam kasus ringan, hal yang sebaiknya dilakukan adalah mengubah pola makan. Artinya makanan yang diasup adalah makanan yang mengandung banyak zat besi. Tetapi dalam kasus yang lebih berat, biasanya mereka disarankan makanan suplemen zat besi dalam kurun waktu tertentu, “Dalam kasus berat, tidak menutup kemungkinan penderita harus menjalani transfusi berat,” tegas dokter yang gemar membaca ini.

Sebuah penelitian yang diadakan oleh Merck dan Yayasan Kusuma Buana periode November 2006-Maret 2007 mengatakan, ada perbedaan jumlah penderita anemia pada tiap tingkatan kelas SD. Penderita anemia kelas 1,2,3,4,5 dan 6 masing-masing 35,2%, 25,4%, 22,6%, 20,7%, 17,3%, dan 14,2%. “Kemungkinan makin tinggi kelasnya, mereka makin bisa memilah makanan apa yang baik untuknya,” tegas Adi.

Dari penelitian itu juga terlihat bahwa yang terkena anemia tidak hanya yang kurus saja. “Mungkin gemuknya mereka karena terlalu banyak karbohidrat dan lemak, tanpa diimbangi dengan sayuran,” Adi menduga.

Menurut Adi, tingginya kasus anemia di sekolah cukup memprihatinkan. Karena anemia bisa mengganggu konsentrasi dan semangat belajar siswa sehingga tentu saja prestasi mereka juga menjadi rendah. “Bisa dibayangkan kalau dari Sekolah Dasar sudah seperti itu. Sumber daya manusia di masa depan tidak akan maksimal,” tegas Dokter Adi.

Selain bisa menurunkan prestasi belajar dan konsentrasi anak, anemia defisiensi besi juga menyebabkan fungsi otot kurang berkembang serta membuat anak sering mudah terkena penyakit. Untuk itu Adi mengingatkan orangtua untuk segera memeriksakan darah anak untuk mengetahui apakah mereka ADB atau tidak. “Pencegahan dan penanganan dini anak terhadap anemia akan lebih baik, sehingga anak-anak Anda tetap dalam kondisi yang prima, tetap semangat, dan terus berprestasi,” tegas Adi.

HAMIL? WASAPADA ANEMIA!
Siapa saja yang rawan terhadap anemia? Bayi/balita, anak dalam masa pertumbuhan, wanita pada saat menstruasi, wanita hamil, dan mereka yang melakukan diet yang miskin zat besi.
Penelitian tentang penderita anemia di 15 Posyandu di DKI Jakarta dan 5 Posyandu di Bekasi Barat awal tahun ini didapat bahwa ibu hamil paling banyak menderita anemia yaitu 96%, diikuti balita 55%, ibu menyusui 41,7%, dan ibu dari balita 35,9%.
Untuk itu, Adi menyarankan ibu hamil untuk lebih banyak mengonsumsi makanan yang mengandung zat besi dan minum suplemen zat besi. Ketika hamil, zat besi tidak hanya untuk ibunya saja, tetapi juga untuk proses pertumbuhan janin. Karena kalau ibu hamil menderita anemia, otomatis janin dalam tubuhnya juga terkena anemia. “Dalam kasus berat, anemia pada saat kehamilan bisa mengakibatkan cacat bawaan atau kematian pada janin,” jelasnya.
Bahkan ada beberapa penelitian yang menyebutkan kalau sejak dalam kandungan sudah terkena ADB, kalau sudah besar nanti si anak akan mengalami gangguan konsentrasi, proses berpikirnya jadi lambat serta daya tahan tubuh menurun.

YANG HARUS DILAKUKAN
1. Menyempatkan diri untuk makan pagi dengan menu seimbang.
2. Makanan yang dikonsumsi harus lebih bervariasi seperti nasi, lauk, sayur, dan buah.
3. Hindari minum teh, kopi, dan susu sehabis makan karena mengganggu absorbsi zat besi.
4. Setelah makan, disarankan makan buah atau vitamin C, karena vitamin ini bisa membantu penyerapan zat besi dalam tubuh.
5. Olah raga teratur.
6. Usahakan anak kita membawa bekal makanan dari rumah, sehingga orangtua bisa mengontrol makanan yang diasup anak.
7. Perlu kerjasama semua pihak termasuk kantin sekolah untuk menjual makanan atau minuman yang bergizi.
Sumber Berita tabloidnova.com
Sumber : http://prov.bkkbn.go.id

PENDERITA ANEMIA JANGAN KONSUMSI DAGING MERAH
Posted by Emmy on Mar 28, ’08 1:49 PM for everyone

Untuk menanggulangi anemia, Anda sebaiknya menghindari mengonsumsi daging merah. Daging ini merupakan sumber zat besi dan punya kandungan kolesterol yang tinggi.

Spesialis gizi Dr. Samuel Oentoro MS SpGK mengemukakan, untuk memperbanyak asupan asam folat dan vitamin B-12, sayuran hijau sebaiknya lebih baik dikonsumsi sebagai bahan makanan yang sarat asam folat. Sedangkan vitamin B-12 juga banyak terdapat dalam ikan, daging, susu, dan keju.

Sekalipun begitu, memilih makanan sumber zat besi itu mesti bijaksana. Sebaiknya, kata Samuel, jangan memilih daging merah, mentega, atau keju sebagai sumber zat besi. Sebab, bahan-bahan makanan itu memiliki kandungan kolesterol yang tinggi.

Anjuran Samuel, sebaiknya mengonsumsi ikan, sekain kaya zat besi juga bisa membantu mengatasi anemia.

Di pasaran, ada cukup banyak suplemen zat besi. Mengonsumsi suplemen zat besi dilakukan saat perut kosong, sehingga penyerapannya optimal.

”Hati-hatilah, sebab ada zat besi yang menimbulkan rasa tidak enak (perih) di lambung. Karena itu, kita harus pintar-pintar memilih,” katanya.

Salah satu yang ia sarankan adalah suplemen yang menggunakan ferrazone sebagai sumber zat besi. Ferrazone adalah preparat besi yang sedikit sekali menimbulkan masalah dilambung, mudah diserap dan tidak mudah terganggu oleh keberadaan kafein dalam kopi, teh, atau cokelat.

Dia juga mengungkapkan, teh, kopi, cokelat, dan susu kalsium memang bisa menghalangi penyerapan zat besi dalam tubuh.

Karena itu, Samuel menyarankan untuk memberi jarak waktu antara pemberian makanan atau suplemen zat besi dengan konsumsi teh, kopi, coklat, dan susu kalsium sekitar 1,5 sampai 2 jam.. (CR-DN).

http://sehatbugar.multiply.com/journal/item/108/PENDERITA_ANEMIA_JANGAN_KONSUMSI_DAGING_MERAH

  • Posted in: Tak Berkategori

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: