TIDAK SEMUA YANG KITA LIHAT ITU BENAR ADANYA

kdg bny kslhfhmn trhdp ssorg hny krn sbuah pndgn mata..
Mgkn,,ktk qt mlht’a trdiam..
Bny prtnyn yg tb2 mncl dibenak ini tntg’a..
Tp,sbnr’a yg ia rsakn itu..
Mgkn skrg ia trdiam dsudut ksunyian..
Tp,bkn brrt ia tak mndgr n mlht kdan sktr’a skrg..
Bkn brarti ia tdk tau apa smbr dr smw prmslhn yg ada..
Bkn brrt ia brubh mnjd lemah krn mnahan amarah..
Bkn brrt ia tdk care trhdp smw org yg ia syg maupun yg mnyayangi’a..
Bkn brrt ia tdk mau tdk brsnda gurau sprt bys’a..
Tp,taukn engkau wahai shbt yg mmpnyai kpekaan akn swsna hti shbt’a..
Tmnmu itu,trdiam krn mmkrkn sjmlh mslh para tmn2’a.,org2 yg ada dsktr’a.,n mslh yg mnmpa dri’a sndr..
Ia,hny mnympn sgla enrg’a smp mnmukn wkt yg tpt dsat ia tlh mnmkn knci dr sgla prmslhn yg ada n mnmkn ti2k yg tpt u/ mngkpkn’a..
Jd,brpstf tnkng sj trhdp’a yh..
..~_^..

BEGITU BERMANFAATNYA WAKTU

memanfakan waktu yg begitu sbentar…
jgn buang semua itu menjadi sia-sia belaka,,
tanpa menghasilkan manfaat sedikitpun…
dikala kau terpuruk segeralah tuk bangkit…
lalu lihatlah kiri dan kananmu…
diseberang sana ada mereka,,
sahabat-sahabatmu…
yg siap membantumu tuk maju…
mereka akan menerimamu dalam segala situasi dan apapun kondisimu…
walaupun mereka ada diurutan ke-3,,
setelah TUHANmu dan orang tuamu…
tapi mereka mempunyai peranan yg cukup penting dalam keberhasilan yg kau raih pada suatu saat nanti…
ingatlah ke-3 sosok itu dalam hidupmu..
n_n

KEHILANGAN ORANG YANG KITA SAYANG UNTUK SELAMANYA…

manusia di ciptakan oleh ALLAH dengan berbagai macam keunikan dan perbedaan…
sat engkau belum muncul ke dunia…
orang tua mu mengharapkan kehadiranmu dirahimnya..
sat ia tau kalo kau sudah tumbuh dan berkembang di dalam rahimnya berupa janin yang makin lama makin menjadikan sosokmu yang jelas untuk terlahir ke dunia…
betapa bahagianya mereka…
orang tuamu yang membesarkan mu..
di sat engkau telah lahir tuk melihat indahnya dunia…
semakin lengkap kebahagiaan yang orang tuamu terima..
lengkap rasanya mereka sebagai sosok manusia yang punya keluarga bahagia dan keturunan yang sholeh/sholehah…
dididiknya engkau dengan sabar…
dari tidak tahu menjadi tahu..
dari tahu menjadi mahir dan ahli untuk melakukan sesuatu…
dan bisa hidup dengan tujuan hidupmu sendiri…
disaat kau sukses..
jangan pernah lupakan sosok orang tuamu yang berjasa sangat besar dan takkan bisa kau balas dengan apapun..
terutama ibumu..
dia yang sangat menyayangimu..
menjagamu..
membimbingmu..
menguatkanmu disat kau rapuh…

disat ajalmu menjemput orang yang kau sayangi itu..
kau hanya bisa menangis…
menyesal karna belum bisa membalas budi dan membahagiakannya…
pasrah dengan takdir TUHAN…
dan terus menguatkan dirimu sendiri…

melihat ia terbaring kaku tak berdaya..
hanya tangis keras yang kau punya tuk mengAntar kepergianya untuk selamanya..
melihat ia dimandikan oleh orang lain…
kau hanya bisa menahan kakimu yang sudah tidak kuat untuk menopang tubuhmu yang sudah lemas melihatnya…
sat ia dikafani…
kau semakin akan menjauh darinya untuk selamanya..

dia hanya melihar kita menangis untuk mengantar kepergiaanya ke liang kubur..
ia hanya terdiam melihat kita di sudut sana..
ia tersenyum melihat orang-orang yang ia sayang menangisi kepergiannya dan menyolatkannya untuk yang terakhir kalinya..

sat ia sudah berada di lahatnya…
semakin dekat waktu kita untuk melihat wajahnya untuk yang terakhir kali…
perlahan-lahan tubuhnya ditutupi oleh umbukan tanah…
semakin menutup…
dan tak terlihat lagi sedikitpun tubuhnya oleh mata kita…

kehilangan sosok yang kita sayangi…
kita jadikan panutan dalam hidup..
sumber kekuatan kita di sat kita rapuh dan berputus asa..
memang sangat menyakitkan dan memberikan bekas kesedihan yang amat mendalam…
tapi kita harus ingat satu hal..
dia akan tetap ada dihati kita…
disat kita membutuhkannya…
pejamkanlah matamu dan bayangkan sosoknya ada dihadapanmu sekarang…
pasti kau akan menemukan semua kunci dari permasalahanmu sat ini…

teruslah ingat semua pesannya selama hidupnya padamu..
semua nasehatnya…
semua keceriaannya…
semua ilmunya…
dan wujudkanlah apa yang selama ini ia harapkan darimu…
yang paling terpenting adalah terus mendoakannya,,agar ia diberikan kemudahan dan kebahagiaan di alam sana…
SEMOGA ALLAH SWT MEMBERIMU TEMPAT TERINDAH DISISINYA…AMIN
SELAMAT JALAN…
ENGKAU AKAN SELALU DIHATIKU SELAMANYA…

Sedikit tapi Berarti

banyak hal yang telah kita dapat tentang hidup..
tapi hanya sedikit ilmu yang kita dapatkan untuk hati ini…
hanya sedikit imu yang selalu teringat didalam benak ini..
tapi apalah artinya semua itu bila kita tak mengamalkannya pada orang lain..
tak ada gunanya punya banyak ilmu, banyak pengalaman, dan banyak materi yang kita punya selama hidup apabila kita takm pernah mengamalkannya pada orang lain..
didalam hati kecil ini,, selalu ada hasrat untuk berbagi kepada semua orang walaupun hanya sedikit yang bekal yang aku punya sekarang..
tapi,, ada orang2 tertentu yang tak suka dengan niatku ini..
entah apa pandangan mereka tentang diriku..
tapi,, alhamdulillah masih ada orang2 baik yang selalu jadi pendengar yang baik untukku..
ia tak pernah memandangku dari segi fisik, usia ataupun materi yang ku punya..
makacih banyak yah kawand..
semoga saja kita akan selalu bisa mengisi segala kekosongan yang sedang kita alami saat ini..
…n_n…

GBS (Guillain Barre Syndrome)

SUMBER 1 => Guillain Barre Syndrome (GBS). GBS adalah penyakit akibat sistem kekebalan tubuh menyerang sistem sarung saraf. Pada umumnya penyakit ini didahului oleh infeksi influenza saluran pernapasan. Pada saat inilah kita merasa nafas tersumbat seperti orang Flu. Setelah nafas tersumbat di dalam tubuh terjadi reaksi autoimun, yakni sistem kekebalan tubuh sendiri yang menyerang bagian dari ujung ujung saraf. Pada saat inilah terjadi kesemutan. Karena kesemutan atau Parestesia itu timbul bila terjadi gangguan pada serabut saraf. Pada penderita GBS yang akut, kesemutan tidak hanya pada tangan tetapi bisa menjalar ke kaki hingga ke perut. Itulah sebabnya penyakit GBS ini bisa menyebabkan kelumpuhan, bahkan bisa juga menyebabkan kematian apabila Perusakan saraf pernafasan sudah mencapai akar saraf di leher sehingga pasien kesulitasn bernafas dan menyebabkan kematian mendadak. Gejala-gejalanya: 1. Didahului oleh nafas tersumbat yang datang secara tiba-tiba seperti hidung yang sedang kena pilek, tapi pilek yang kering. 2. Karena nafas terganggu tidak lama akan terasa gelisah. 3. Disusul oleh kesemutan pada kedua tangan. 4. Pusing seperti terhuyung-huyung. 5. Mulut terasa asam. 6. Badan lemas, sesekali terasa dingin di telapak. 7. Pusing masih terasa 2-3 hari setelah kejadian. Jika mengalami ini segera periksa ke dokter saraf. Pada umumnya ada dua jenis pengobatan yang akan diditawarkan untuk anda pilih. Silahkan Anda tanyakan dan berkonsultasi dengan dokter saraf Anda. Dua jenis pengobatannya adalah Plasma Exchange dan Intravenous immunoglobulin. Kedua cara itu saat ini sama sama efektif, walaupun ada pihak tertentu yang mengklaim plasma exchange lebih baik, sedangkan di pihak lain immunoglobulin lebih baik. Tetapi jika ada yang mengusulkan menggunakan kedua cara tersebut secara bergantian maka sebaiknya anda jangan mau. pilihlah salah satu cara saja. karena pengobatan ini mungkin harus dilakukan berkali kali, tergantung dari keakutan GBS anda dan kestabilan kesehatan anda, jika anda sudah memutuskan satu terapi lakukan terapi yang sama untuk selanjutnya. Untuk pastinya, pertama, segeralah konsultasikan dengan dokter spesialis syaraf agar bisa dilakukan test dan diagnosa yang lebih mendalam. Jika melalui diagnosa, ternyata memang GBS yang anda alami maka pengobatan penyakit ini saat ini masih sangat mahal. Akan menghabiskan puluhan juta bahkan bisa mencapai 100 jutaan jika sudah akut. Kedua segeralah anda periksa ke dokter Syaraf untuk melakukan pemeriksaan. bila anda History dan Diagnosa awal dokter syaraf tersebut juga menyimpulkan ada gejala GBS. maka anda akan disuruh melakukan test. 1. Lumbar puncture atau Spinal tap. Anda akan disuruh duduk miring dan lutut anda ditekuk. kemudian cairan tulang belakang anda akan diambil, sedikit sakit pada saat ditusuk tapi hanya sebentar. Cairan ini akan ditest di lab untuk mengetahui hasilnya apakah anda positive GBS atau tidak. 2. Jika dokter masih ragu, mungkin akan diikuti lagi dengan Nerve function tests. Ada 2 test untuk ini. 2a. Electromyography. atau sering juga disebut dengan test EMG ini adalah untuk melihat apakah kesalahan terjadi pada otot atau syaraf. Otot anda akan dimasukkan jarum elektroda yang dihubungkan ke komputer, kemudian komputer akan membaca perubahan perubahan listrik yang terjadi pada pergerakan otot anda pada berbagai keadaan, baik pada saat otot istirahat maupuan pada saat ada aktifitas. 2b. nerve conduction velocity adalah test untuk melihat kecepatan hantaran saraf. Komputer akan menghitung lama proses hantaran kecepatan saraf dari satu elektroda ke elektroda lainnya. Dari pemeriksaan pemeriksaan tersebut, maka dokter harusnya sudah bisa memutuskan apakah anda positif GBS atau tidak. Mungkin pemeriksaan tersebut tidak perlu semua dilakukan bila pada pemeriksaan awal dokter sudah melihat hasil yang positif pada pemeriksaan awalnya. Jika ada rasa panik atau ketakutan, itu bukanlah gejala GBS. Sepertinya GBS tidak menimbulkan ketidakstabilan emosi, kecuali secara psikologi hal ini memang bisa membuat menjadi was was.

SUMBER 2 => Penyakit GBS (Guillain Barre Syndrome) GBS adalah penyakit langka yang menyebabkan tubuh menjadi lemah kehilangan kepekaan yang biasanya dapat sembuh sempurna dalam hitungan minggu, bulan atau tahun. GBS mengambil nama dari dua Ilmuwan Perancis, Guillain (baca Gilan) dan Barré (baca Barre), yang menemukan dua orang prajurit perang di tahun 1916 yang mengidap kelumpuhan kemudian sembuh setelah menerima perawatan medis. Penyakit ini menjangkiti satu dari 40,000 orang tiap tahunnya. Bisa terjangkit di semua tingkatan usia mulai dari anak-anak sampai dewasa, jarang ditemukan pada manula. Lebih sering ditemukan pada kaum pria. Bukan penyakit turunan, tidak dapat menular lewat kelahiran, ternfeksi atau terjangkit dari orang lain yang mengidap GBS. Namun, bisa timbul seminggu atau dua minggu setelah infeksi usus atau tenggorokan. Apa gejala GBS? Gejala awal antara lain adalah: rasa seperti ditusuk-tusuk jarum diujung jari kaki atau tangan atau mati rasa di bagian tubuh tersebut. Kaki terasa berat dan kaku atau mengeras, lengan terasa lemah dan telapak tangan tidak bisa menggenggam erat atau memutar seusatu dengan baik (buka kunci, buka kaleng dll) Gejala-gejala awal ini bisa hilang dalam tempo waktu beberapa minggu, penderita biasanya tidak merasa perlu perawatan atau susah menjelaskannya pada tim dokter untuk meminta perawatan lebih lanjut karena gejala-gejala akan hilang pada saat diperiksa. Gejala tahap berikutnya disaaat mulai muncul kesulitan berarti, misalnya: kaki susah melangkah, lengan menjadi sakit lemah, dan kemudian dokter menemukan syaraf refleks lengan telah hilang fungsi. Apa penyebab GBS? Penyakit ini timbul dari pembengkakan syaraf peripheral, sehingga mengakibatkan tidak adanya pesan dari otak untuk melakukan gerakan yang dapat diterima oleh otot yang terserang Karena banyak syaraf yang terserang termasuk syaraf immune sistem maka sistem kekebalan tubuh kita pun akan kacau. Dengan tidak diperintahakan dia akan menngeluarkan cairan sistem kekebalan tubuh ditempat-tempat yang tidak diinginkan. Dengan pengobatan maka sistem kekebalan tubuh akan berhenti menyerang syaraf dan bekerja sebagaimana mestinya. Bagaimana GBS dapat ter-diagnosa? Diagnosa GBS didapat dari riwayat dan hasil test kesehatan baik secara fisik maupun test laboratorium. Dari riwayat penyakit, obat2an yang biasa diminum, pecandu alcohol, infeksi2 yang pernah diderita, gigitan kutu maka Dokter akan menyimpulkan apakah pasien masuk dalam daftar pasien GBS. Tidak lupa juga riwayat penyakit yang pernah diderita pasien maupun keluarga pasien misalnya diabetes mellitus, diet yang dilakukan, semuanya akan diteliti dengan seksama hingga dokter bisa membuat vonis apakah anda terkena GBS atau penyakit lainnya. Pasien yang diduga mengidap GBS di haruskan melakukan test: 1. Darah lengkap 2. Lumbar Puncture 3. EMG (electromvogram) Sesuai urutannya, test pertama akan dilakukan kemudian test ke dua apabila test pertama tidak terdeteksi adanya GBS, dan selanjutnya. Apa yang akan terjadi setelah test dilakukan? Tanda-tanda melemahnya syaraf akan nampak semakin parah dalam waktu 4 sampai 6 minggu. Beberapa pasien melemah dalam waktu relative singkat hingga pada titik lumpuh total dalam hitungan hari, tapi situasi ini amat langka. Pasien kemudian memasuki tahap ‘tidak berdaya’ dalam beberapa hari. Pada masa ini biasanya pasien dianjurkan untuk ber-istirahat total di rumah sakit. Meskipun kondisi dalam keadaan lemah sangat dianjurkan pasien untuk selalu menggerakkan bagian-bagian tubuh yang terserang untuk menghindari kaku otot. Ahli Fisioterapy biasanya akan sangat dibutuhkan untuk melatih pasien dengan terapi-terapi khusus dan akan memberikan pengarahan-pengarahan kepada keluarga adan teman pasien cara-cara melatih pasien GBS. Apakah GBS menyakitkan? Ya dan tidak. Pasien biasanya merasakan sakit yang akut pada saat GBS. Terutama didaerah tulang belakang dan lengan dan kaki. Namun ada juga pasien yang tidak mengeluhkan rasa sakit yang berarti meskipun mereka mengalami kelumpuhan parah. Rasa sakit muncul dari pembengkakan dari syaraf yang terserang, atau dari otot yang sementara kehilangan suplai energy, atau dari posisi duduk atau tidur si Pasien yang mengalami kesulitan untuk bergerak atau memutar tubuhnya ke posisi nyaman. Untuk melawan rasa sakit dokter akan memberikan obat penghilang rasa sakit dan perawat akan memberikan terapi-terapi untuk me-relokasi bagian-bagian tubuh yang terserang dengan terapi-terapi khusus. Rasa sakit dapat datang dan pergi dan itu amat normal bagi penderita GBS. Apakah pasien GBS membutuhkan perawatan khusus? Pasien biasanya akan melemah dalam waktu beberapa minggu, maka dari itu perawatan intensive sangat diperlukan di tahap-tahap dimana GBS mulai terdeteksi. Sesuai dengan tahap dan tingkat kelumpuihan pasien maka dokter akan menentukan apa pasien memrlukan perawatan di ruang ICU atau tidak. Sekitar 25% pasien GBS akan mengalami kesulitan di: 1. Bernafas 2. Kemampuan menelan 3. Susah batuk Dalam kondisi tersebut diatas, biasanya pasien akan diberikan bantuan alat ventilator untuk membantu pernafasan. Berapa lama pasien dapat sembuh? Setelah beberapa waktu, kondisi mati rasa akan berangsur membaik. Pasien harus tetap wapada karena hanya 80% pasien yang dapat sembuh total, tergantung parahnya pasien bisa berjalan dalam waktu hitungan minggu atau tahun. Namun statistic membuktikan bahwa rata-rata pasien akan membaik dalam waktu 3 sampai 6 bulan. Pasien parah akan menyisakan cacat dibagian yang terserang paling parah, perlu terapi yang cukup lama untuk mengembalikan fungsi-fungsi otot yang layu akibat GBS. Bisanya memakan waktu maksimal 4 tahun. Adakah obat untuk penyakit ini? Obat nya hanya ada 1 macam yaitu GAMAMUNE ( Imuno globuline ) yang harganya 4jt – 4,5 jt rupiah /botol biasanya obat ini diinfuskan kepasien dg jumlah yang dihitung dari berat badan, untuk lebih jelas nya tanya ke dokter, contoh kasus yang dialami Deya dg berat badan pada saat sakit waktu itu 58 KG deya menghabiskan obat ini sebanyak 20 botol, ( 5 botol / hari). Tips perawatan diri Karena penyebab pasti GBS tidak dapat menunjuk, tidak ada cara yang diketahui untuk mencegahnya. However, it’s important to seek immediate medical treatment for any symptoms of muscle weakness and loss of reflexes. Namun, penting untuk segera mencari perawatan medis untuk setiap gejala kelemahan otot dan hilangnya refleks. Early treatment improves the outlook for recovery. Perawatan dini meningkatkan prospek untuk pemulihan.

SUMBER 3 => Penatalaksanaan Rehabilitasi Medis, Terapi okupasi atau Fisioterapi Pada Penyakit Guillain-Barre Syndrome Sindroma Guillain-Barre (GBS) atau disebut juga dengan radang polineuropati demyelinasi akut (AIDP), poliradikuloneuritis idiopatik akut, polyneuritis idiopatik akut, Polio Perancis, paralisis asendens Landry, dan sindroma Landry Guillain Barre adalah suatu penyakit autoimun yang menyerang sistem saraf perifer; dan biasanya dicetuskan oleh suatu proses infeksi yang akut. GBS termasuk dalam kelompok penyakit neuropati perifer Meskipun sebagian besar penderita GBS dapat sembuh spontan, namun lama perjalanan penyakit GBS tidak dapat diprediksi dan sering membutuhkan perawatan rumah sakit dan rehabilitasi selama berbulan-bulan. Seiring dengan kembalinya suplai saraf, penderita membutuhkan bantuan untuk mampu menggunakan otot-otot yang terpengaruh oleh GBS secara optimal. Setelah fase akut terlewati, pasien membutuhkan rehabilitasi untuk mencapai fungsi tubuh yang telah hilang. Rehabilitasi ditujukan terutama untuk memperbaiki fungsi aktivitas sehari-hari (AKS), seperti menggosok gigi, mencuci dan berpakaian. Tujuan terapi fisik adalah untuk menstimulasi otot dan sendi, melalui berbagai gerakan fisik dan latihan; sehingga terbentuk kekuatan, fleksibilitas, dan lingkup gerak sendi yang optimal. Seorang fisioterapi akan melakukan program latihan progresif dan memberikan petunjuk mengenai gerakan fungsional yang benar, sehingga tidak terjadi kompensasi gerakan yang salah saat penyembuhan. Terapis okupasi memfokuskan terapi pada aktivitas untuk membantu pasien melakukan aktivitasnya sehari-hari secara optimal. Dalam terapi, digunakan beberapa alat bantu tambahan seperti brace pada tungkai atau lengan, cane, walker, dan kursi roda untuk membantu mobilisasinya selama fase penyembuhan atau sekiranya GBS membuat penderita hidup dengan disabilitas yang permanen. Penggunaan alat potong bantuan juga diperlukan untuk membuat pasien mandiri dengan AKSnya. Seorang terapis wicara juga berperan penting dalam meningkatkan kemampuan bicara dan menelan pasien pasca intubasi ataupun trakeostomi. Terapis wicara akan memperbaiki kemampuan penderita dalam berkomunikasi. Semua ini akan tergabung dalam tim dimana dokter, perawat, dan anggota tim medis lainnya dengan pengetahuannya masing-masing, sehingga dapat menentukan tujuan terapi dan prioritas terapi berdasarkan tujuan tersebut. Setelah rehabilitasi, pasien harus mampu berfungsi secara utuh di lingkungan rumahnya masing-masing. Pada GBS, didapati beberapa masalah mendasar dari sudut pandang rehabilitasi, terutama masalah muskuloskeletal, kardiopulmonari, otonomik dan sensorik. Muskuloskeletal Gangguan muskuloskeletal yang menonjol adalah berkurangnya kekuatan otot. Seperti disebutkan di atas, kelemahan otot disebabkan oleh terhambatnya atau terhentinya konduksi saraf dari medulla spinalis ke neuromuscular junction, yang satuannya disebut motor unit. Satu motor unit adalah beberapa serat otot yang mendapatkan inervasi oleh satu motor neuron. Saraf yang menginervasi motor neuron berasal dari akar saraf tulang belakang. Satu akar saraf bisa menginervasi ribuan motor neuron. Sebaliknya satu otot mungkin disarafi oleh beberapa motor neuron yang berasal dari beberapa akar saraf tulang belakang . Jadi bila ada satu akar saraf mengalami gangguan, maka sebagian serabut otot tidak mendapatkan inervasi; sedangkan serabut otot yang mendapat innervasi dari akar saraf lain masih mendapatkan konduksi saraf. Kelumpuhan (plegia) terjadi akibat banyaknya motor unit, atau semua, dalam satu otot yang tidak terkonduksi, sehingga otot tersebut tidak bisa dikontraksikan. Sedangkan kelemahan (parese) terjadi akibat hanya sebagian motor unit dalam satu otot yang masih terkonduksi saraf, sehingga masih mampu untuk mengkontraksikan otot tersebut. Oleh karena hanya sebagian serabut otot yang terinervasi yang bekerja untuk menggerakkan satu otot, penderita GBS lebih cepat lelah. Selanjutnya bila otot tidak bisa berkontraksi berarti bagian badan tersebut tidak bergerak. Bila hal ini terjadi dalam kurun waktu lama, yang akan terjadi bukan hanya kekuatan otot yang terganggu, tetapi juga akan terjadi pemendekan otot, dan keterbatasan luas gerak sendi (LGS). Jadi akibat berkurangnya konduksi saraf, akan mengurangi jumlah motor unit yang bekerja, bahkan mungkin tidak ada sama sekali, sehingga kelemahan otot atau lumpuh sama sekali, dan akan terjadi pemendekan otot, dan pada akhirnya keterbatasan LGS. Kardiopulmonari Hal yang sama juga terjadi bila proses kerusakan selaput myelin terjadi pada tingkat akar saraf thoracal, karena akan terjadi kelemahan otot-otot pernafasan, yakni otot intercostal. Bahkan bila menyerang tingkat cervical, diafragma mengalami gangguan juga . Akibatnya bahkan semakin rumit. Oleh karena otot-otot intercostal, mungkin juga diafragma, berkurang kekuatannya, maka ekspansi dada berkurang. Hal ini berakibat berkurangnya kapasitas vital paru, sehingga fungsi ventilasi juga menurun. Akibat kapasitas vital menurun, kemampuan batuk pun menurun. Sehingga kemampuan untuk membersihkan saluran pernafasan menjadi berkurang. Keadaan ini diperburuk oleh kenyataan bahwa penderita yang mengalami kelemahan otot paru hanya mampu berbaring. Dalam posisi berbaring, kapasitas paru semakin berkurang karena pengaruh gravitasi terhadap posisi paru. Akibat gravitasi juga, otot-otot pernafasan yang sudah lemah tersebut, semakin berat melakukan ekspansi paru. Berkurangnya daya ekspansi paru berakibat terjadinya atelektasis, sehingga fungsi ventilasi paru berkurang . Resiko infeksi paru tinggi bila terjadi gangguan menelan, akibat terserangnya cranial nerves yang bersangkutan. Karena gangguan menelan tersebut, makanan bisa masuk ke saluran pernafasan, yang akan menjadi sumber penyebab infeksi paru. Terjadinya infeksi paru akan meningkatkan kebutuhan ventilasi. Sebaliknya infeksi paru juga menurunkan kemampuan pertukaran gas di paru. Sehingga perbedaan kebutuhan ventilasi dan kemampuan ventilasi paru akan sangat besar, yang akan memperburuk kondisi pasien. Sistem Saraf Otonomik Selain gangguan kardiopulmonari, bila kerusakan selaput myelin mencapai tulang belakang tingkat thoracal, maka akan terjadi juga gangguan saraf otonomik simpatik. Bila gangguan selaput myelin mencapai saraf vagus (salah satu cranial nerves) akan terjadi gangguan parasimpatik. Oleh karena saraf-saraf tepi otonomik berakar dari akar saraf yang keluar dari antara tulang belakang thoracal dan saraf vagus . Gangguan yang biasanya tampak adalah naik turunnya tekanan darah, keringat yang berlebihan, ataupun postural hipotensi. Kecuali gangguan tekanan darah yang naik turun secara tiba-tiba, dan menelan, gangguan-gangguan tersebut tidak akan banyak mempengaruhi program fisioterapi. Tetapi dalam memberikan pengobatan fisioterapi hendaknya selalu mengawasi tanda-tanda tersebut, terutama bila hendak memberikan perubahan posisi yang berarti atau mobilisasi. Sensasi Gejala lain yang dirasakan penderita GBS adalah gangguan rasa (sensasi). Gangguan rasa yang dirasakan adalah kesemutan, tebal, rasa terbakar, ataupun nyeri. Pola penyebarannya tidak teratur dan tidak simetris, bisa berubah setiap saat. Meskipun gangguan tersebut tidak berbahaya, tetapi gangguan rasa tersebut menimbulkan rasa tidak nyaman. Rasa nyeri kadangkala juga terjadi akibat sebuah sendi tidak digerakkan dalam waktu tertentu. Jadi kadangkala nyeri murni disebabkan oleh gangguan sensasi, tetapi kadangkala juga disebabkan oleh kombinnasi gangguann sensasi dan sendi yang sudah lama tidak digerakkan. Selain gangguan rasa yang berakibat tidak nyaman, gangguan sensasi juga bisa menyebabkan komplikasi. Misalnya gangguan rasa tebal, disertai kelemahan otot, bisa menyebabkan dekubitus. Oleh karenanya perlu dipikirkan untuk pencegahannya. PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI Penatalaksanaan rehabilitasi penderita GBS harus dimulai sejak awal penyakit, yaitu sejak kondisi pasien stabil. Oleh karena perjalananan penyakit GBS yang unik, ada dua fase yang perlu diperhatikan dalam memberikan fisioterapi, yakni pada fase progresif serta fase penyembuhan. Pada fase progresif, yang penting diperhatikan adalah bagaimana mempertahankan kondisi pasien, sehingga tidak terjadi komplikasi. Penting diperhatikan semua aspek medis dan rehabilitasi pada fase ini, karena pada fase ini, umumnya kondisi pasien akan terus menurun. Pada fase penyembuhan, prinsip rehabilitasi ditujukan terutama pada peningkatan kekuatan dan optimalisasi kondisi pasien. Prinsip rehabilitasi pada fase ini terutama ditujukan pada masalah muskuloskeletal dan kardiopulmoner. Tujuan utama dari rehabilitasi pada penderita GBS secara keseluruhan adalah untuk mengoptimalisasi kemampuan fungsional penderita. Penatalaksanaan Fisioterapi pada Problem Muskuloskeletal Seperti telah disebutkan di atas, masalah muskuloskeletal adalah penting baik pada fase pertama maupun kedua oleh karena bukan hanya motorik adalah masalah utama penderita GBS, tetapi juga skeletal sebagai akibat dari gangguan motorik. Fase progresif Pada fase pertama yang perlu diberikan adalah mempertahankan kekuatan otot, panjang otot, luas gerak sendi (LGS), tanpa melupakan bahwa kondisi pasien masih akan terus memburuk dalam waktu maksimal 2 minggu. Untuk meningkatkan kekuatan otot, dapat dilakukan latihan penguatan secara aktif, bila kondisi pasien memungkinkan. Namun apabila penderita tidak mampu menggerakkan sendiri anggota badannya, sebaiknya dilakukan latihan penguatan dengan bantuan (aktif asistif). Pada penderita GBS yang sangat lemah, perlu diberikan latihan pasif, dimana terapis yang akan menggerakkan angota badan penderita.Karena umumnya kondisi penderita akan terus menurun, maka biasanya bantuan yang diberikan akan semakin meningkat dari waktu ke waktu. Latihan menggerakkan anggota tubuh dianjurkan dimulai dari bagian bawah, dan diakhiri dengan bagian tubuh yang terkuat. Hal ini sekaligus juga dapat meningkatkan motivasi pasien secara psikis. Latihan pergerakan setiap sendi dilakukan secara sistematis, sehingga tidak ada gerakan otot maupun sendi yang tertinggal. Dalam menggerakkan anggota badan, perlu diperhatikan tingkat toleransi pasien terhadap latihan. Pasien tidak boleh dibiarkan terlalu lelah atau melakukan gerak paksa dalam menggerakkan anggota tubuh, karena hal ini dapat merusak motor unit. Berikan pengertian dan kesadaran kepada pasien bahwa gerakan yang dilakukan secara rutin lebih penting dalam mengembalikan gerakan otot, bila dibandingkan dengan gerakan yang terlalu dipaksakan. Bagi pasien GBS, frekuensi latihan seharusnya tidak terlalu tinggi dalam satu sesi, untuk mencegah kelelahan, mengingat jumlah motor unit yang bekerja hanya terbatas. Intensitas latihan dalam sehari dapat ditingkatkan secara bertahap. Perlu diingat pada fase pertama, otot penderita GBS biasanya tidak mampu menggerakkan LGS secara penuh; sehingga fisioterapis perlu membantu penderita dalam menggerakkan sendi sesuai dengan luas gerak sendi yang normal, atau paling sedikit sampai lingkup sendi yang fungsional. Seperti halnya latihan untuk otot, latihan pergerakan sendi sebaiknya juga dilakukan secara sistematis supaya tidak ada yang tertinggal. Sesudah gerakan aktif setiap sendi oleh penderita, sebaiknya ditambahkan 2 sampai 3 kali gerakan sendi oleh fisioterapis dalam LGS maksimal untuk mempertahankan LGS. Dalam melakukan evaluasi luas gerak sendi, dilakukan pengukuran sudut setiap sendi dengan goniometer, dalam satuan derajat. LGS seharusnya tetap terjaga dari waktu ke waktu, agar supaya penderita mampu berfungsi secara maksimal. Fase penyembuhan Fase penyembuhan merupakan fase lanjutan dari fase progresif, dimana rehabilitasi ditekankan pada pemeliharaan panjang otot dan lingkup gerak sendi, sehingga diharapkan panjang otot dan LGS akan tetap terjaga. Rehabilitasi pada fase lanjutan ini lebih menekankan pada upaya peningkatan kekuatan otot, dengan tetap memperhitungkan jumlah motor unit yang ada serta dalam masa pemulihan. Dalam menangani masalah kekuatan otot, fase ini masih berfokus pada peningkatan kekuatan otot. Meskipun demikian, beban latihan yang diberikan belum boleh terlalu berat, karena jumlah motor unit yang aktif masih terbatas. Program latihan aktif dapat ditingkatkan apabila penderita sudah mampu melakukan latihan aktif dan memenuhi LGS normal tanpa kesulitan. Jenis latihan penguatan yang diberikan kemudian dapat ditingkatkan menjadi bentuk latihan aktif resistif, dimana dalam upaya peningkatan kekuatan otot, diberikan beban. Beban yang diberikan dapat bervariasi, baik secara manual ataupun dengan alat. Beban manual diberikan oleh fisioterapis, sedangkan alat yang digunakan dapat macam-macam, misalnya dengan quadricep bench. Karena tujuan akhir rehabilitasi adalah untuk memaksimalkan kemampuan fungsional, perlu diperhatikan pada otot mana saja akan diberikan latihan tersebut; yakni terutama pada otot-otot yang diperlukan dalam beraktivitas. Untuk mengevaluasi perbaikan kondisi pasien, dapat dilakukan evaluasi perbaikan kekuatan otot dengan menggunakan metode manual muscles testing (MMT). Pengukuran kekuatan otot dilakukan secara berkala, misalnya tiap minggu, atau tiap 3 hari. Dengan melihat adanya perbaikan dalam evaluasi, baik terapis maupun penderita dapat melihat perkembangan yang terjadi, sehingga akan meningkatkan motivasi bagi keduanya. Latihan pergerakan sendi pada fase penyembuhan tidak berbeda dengan latihan gerak sendi pada fase progresif; yakni berupa latihan gerak pada setiap sendi secara sistematis, dan di akhir gerakan aktif, ditambahkan 2 sampai 3 kali gerakan sendi maksimal untuk mempertahankan LGS. Pemeliharaan panjang otot dapat dilakukan sekaligus pada saat melakukan latihan untuk mempertahankan LGS; terkecuali untuk beberapa otot yang melewati dua sendi, misalnya otot quadriceps, iliotibial band, dan sartorius. Otot-otot ini penting dalam kegiatan penderita sehari-hari, misalnya duduk, bersila atau bersimpuh; sehingga bila panjang ototnya tidak terpelihara, maka akan berpengaruh pada aktivitas penderita bila sembuh nanti. Pada otot-otot ini, perlu gerakan khusus untuk mempertahankan panjangnya. Evaluasi panjang otot sulit dilakukan, karena bersifat individual dan dipengaruhi aktivitas dan keturunan. Salah satu cara untuk mengetahui panjang otot adalah menanyakan aktivitas penderita, apakah penderita biasa bersila, duduk sambil menumpangkan kaki atau bersimpuh; atau dengan jalan membandingkan otot sebelah kanan dengan sebelah kiri, atau sebaliknya; sehingga dapat dinilai apakah panjang otot yang bersangkutan cukup baik untuk penderita dapat melakukan aktivitasnya kembali. Penatalaksanaan pada Masalah Kardiopulmoner Masalah kardiopulmoner lebih menonjol terutama pada fase pertama. Pada kasus GBS yang berat, terjadi kelemahan otot-otot interkostal akibat berkurangnya jumlah motor unit yang terkonduksi. Hal ini menyebabkan penderita tidak mampu melakukan inspirasi secara penuh, sehingga kapasitas vital akan berkurang. Kemampuan batuk penderita juga akan berkurang, sehingga menurunkan kemampuan untuk membersihkan saluran pernafasan. Hal ini menyebabkan saluran pernafasannya menyempit, dan ekspansi paru berkurang. Pada akhirnya akan terjadi penurunan kapasitas vital penderita. Berkurangnya Ekspansi Dada Untuk meningkatkan kemampuan ekspansi dada, perlu dilakukan latihan peningkatan ekspansi dada. Namun pada fase ini, latihan secara pasif sulit dilakukan, yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan bantuan ventilator atau hiperinflasi manual. Dengan terpenuhinya volume sesuai dengan kapasitas vital, maka pertukaran gas dalam alveoli akan bertambah sehingga mampu memenuhi kebutuhan ventilasi. Selain itu perlu dilakukan pemeliharaan kelenturan jaringan-jaringan lunak disekitarnya, sehingga LGS persendian disekitar tulang rusuk dapat terpelihara dengan baik. Bila kekuatan otot interkostal sudah kembali pulih, rongga dada akan siap untuk mengembang kembali; sehingga latihan penguatan dapat segera diberikan. Karena tekanan positif yang diberikan lewat ventilator dan hiperinflasi manual dapat memberikan efek samping, seperti barotrauma; maka latihan aktif harus segera dilakukan. Pemberian resep latihan masih harus memperhatikan intensitas dan frekuensi latihan dalam satu sesi dan dalam sehari. Hal ini akan memberikan kesempatan istirahat yang cukup bagi penderita, untuk menghindari kelelahan. Gangguan Pembersihan Jalan Nafas Dalam keadaan normal, setiap hari dihasilkan sekitar 100 ml sekret saluran pernafasan. Pembersihan sekret merupakan bagian dari sistem pertahanan tubuh, namun apabila sekresi yang dihasilkan lebih dari normal, atau ada kegagalan kerja silia; maka diperlukan mekanisme batuk untuk mengeluarkannya dari saluran pernfasan. Agar bisa meletupkan batuk yang kuat, seseorang harus bisa menghirup cukup volume udara. Penderita GBS dengan kelemahan otot pernafasan umumnya sulit untuk menghasilkan batuk yang cukup kuat untuk mengeluarkan sekresi. Bila sekresi dibiarkan menumpuk, diameter saluran pernafasan akan menyempit, dan volume udara yang masuk ke paru akan berkurang; sehingga dengan sendirinya kemampuan ventilasi juga akan berkurang. Pada fase awal, pembersihan saluran pernafasan dapat dilakukan dengan bantuan ventilator atau manual hyperinflation. Dengan teknik tertentu, maka panjang ekspirasi dapat diperpendek, sehingga kecepatan udara yang keluar pada waktu ekspirasi bisa meningkat. Dengan demikian sekresi saluran pernafasan bisa dikeluarkan. Selain menggunakan bantuan ventilator dan manual hyperinflation, dapat dilakukan drainase postural untuk membantu memindahkan sekresi dari saluran pernafasan distal ke proksimal. Untuk membersihkan sekresi dari saluran pernafasan, penderita harus mampu batuk; bila penderita tidak mampu, maka perlu dilakukan suction. Selama melakukan drainase postural, perlu diwaspadai adanya tanda-tanda gangguan otonomik, seperti laju pernafasan, nadi, ataupun saturasi oksigen. Jelaslah bahwa melatih batuk sejak dini sangatlah diperlukan untuk meningkatkan kemampuan pembersihan saluran pernafasan. Hal ini biasanya mampu terlaksana pada fase penyembuhan, dimana otot-otot pernafasan mulai menguat. Pada fase pertama bila otot-otot pernafasan masih mampu menghasilkan batuk, latihan batuk dapat bermanfaat untuk mempertahankan kekuatan otot. Gangguan Menelan Pada penderita GBS dengan gangguan menelan, resiko infeksi paru-paru semakin tinggi akibat kemungkinan pneumonia aspirasi. Bila pasien mampu batuk kuat, maka benda asing dapat keluar dari saluran pernafasan sekaligus membersihkan sekresi. Namun, pada penderita dengan gangguan menelan umumnya disertai dengan kelemahan otot pernafasan, sehingga penderita tidak mampu batuk. Penderita GBS yang disertai adanya gangguan menelan biasanya menerima makanan melalui selang yang langsung masuk ke lambung, sehingga resiko aspirasi lebih kecil. Penatalaksanaan pada Masalah Otonomik Gangguan saraf otonomik, misalnya ketidakstabilan tekanan darah, diaphoresis, ataupun hipotensi postural akan muncul bila kerusakan selubung myelin mencapai tingkat vertebrae torakal atau lebih tinggi lagi, yakni saraf kranialis. Gangguan otonom ini merupakan salah satu hal yang perlu dicermati dalam rehabilitasi, terutama dalam hal mobilisasi; dimana saat mobilisasi, tubuh perlu melakukan adaptasi, baik karena pengaruh postural ataupun terhadap sistem kardiovaskuler. Karenanya, perlu dicermati perubahan tekanan darah saat dilakukan tindakan rehabilitasi. Penatalaksanaan pada Masalah Sensasi Gangguan sensibilitas yang sering muncul pada penderita GBS adalah rasa terbakar, kesemutan, rasa tebal atau nyeri. Tidak banyak yang bisa dilakukan untuk mengurangi ketidaknyamanan akibat rasa tebal, rasa terbakar, atau kesemutan. Secara teori rasa nyeri bisa dikurangi dengan pemberian modalitas TENS (transcutaneous electrical nerve stimulation). Nyeri pada punggung mungkin juga disebabkan oleh imobilisasi lama di tempat tidur. Nyeri ini dapat dikurangi dengan melakukan peregangan pada sendi-sendi tulang belakang beserta otot-otot disekitarnya, pergerakan pasif anggota gerak, masase, perubahan posisi yang cukup sering, serta dengan medikasi. Penggunaan narkotika sebagai pengurang nyeri harus dilakukan secara bijaksana, karena adanya resiko ileus pada penderita GBS.2 Bila rasa nyeri tidak berkurang, hal ini mungkin disebabkan oleh gangguan sensasi. Seringkali rasa nyeri yang timbul karena kombinasi keduanya. Rasa tebal atau baal menyebabkan penderita tidak dapat merasakan tekanan pada bagian tubuhnya, misalnya akibat penekanan tonjolan tulang pada kasur. Bila berlanjut, hal ini dapat menyebabkan luka lecet dan akhirnya dekubitus. Sebagai usaha pencegahan ulkus ini, perubahan posisi penderita harus selalu dilakukan. Idealnya perubahan posisi dilakukan setiap 2 jam, dan setiap penonjolan tulang harus selalu mendapat perhatian. Saat pasien dirawat dengan ventilator, ia tidak mampu bicara ataupun berkomunikasi dengan cara lain; karenanya mungkin timbul rasa terasing, frustasi, kemarahan, syok, depresi, ansietas, ataupun rasa takut hidup tergantung selamanya dengan kerusakan permanen. Karenanya penting adanya dukungan penuh dari keluarga sehingga pasien dapat mengekspresikan perasaannya dan mendapatkan ketenangan batin. Pada waktu penderita GBS tidak lagi memerlukan ventilator, selang akan dicabut, sehingga pasien dapat berbicara kembali, meskipun otot-otot yang umumnya digunakan untuk berbicara (bibir, mulut, lidah, dan pita suara) masih sangat lemah sehingga bicara menjadi kurang jelas, sehingga pasien membutuhkan bantuan terapis wicara untuk mengajarinya supaya dapat berbicara dengan lancar kembali. Komunikasi yang efektif perlu dibangun diantara pasien dan dokter, pelaku rawat medis, keluarga, dsb. Bila bicara tidak mungkin dilakukan, metode komunikasi lainnya dapat digunakan, misalnya dengan penggunaan alat tulis ataupun bahasa isyarat melalui isyarat mata, jari, isyarat tunjuk atau gerakan tangan sebagai respon terhadap orang lain. Papan berisi kartu atau balok-balok berwarna dengan tulisan berupa pertanyaan standard yang bervariasi mungkin dapat digunakan pada pasien dengan kemampuan gerak yang minimal. Atau bila mungkin, dapat digunakan media lainnya seperti mouthpiece menggunakan sinyal Morse yang dihubungkan dengan komputer yang akan mentransformasikan sinyal menjadi alfabet, dan lain sebagainya. Dibutuhkan ide kreatif serta selera humor dan kesabaran yang tinggi dalam mengatasi masalah ini. Selain mengalami periode sulit secara fisik, penderita GBS juga mengalami periode sulit secara psikologik; dimana ia terbaring tanpa daya, dan harus menggantungkan hidupnya pada orang-orang di sekitarnya. Karena itu, perlu diberikan informasi yang jelas sejak awal mengenai perjalanan penyakit, bahwa sebagian besar penderita akan sembuh, sehingga muncul optimism baik dari penderita maupun pihak keluarga. Meski begitu, harus dihindari kemungkinan optimisme yang berlebihan sehingga keluarga dan penderita menjadi kurang sensitif. Konseling dan medikasi akan membantu mengatasi perasaan penderita serta keluarganya. Kerabat yang berkunjung hendaknya terus menyemangati dan membuat pasien tetap dapat mengikuti perkembangan aktivitas keluarga dan teman-temannya, untuk menghindari perasaan terisolasi dari kehidupan normal serta mempersiapkannya untuk fase penyembuhan dan pengenalan ke dalam lingkungannya kembali. Sejumlah penderita merasa nyaman bila mendapatkan kunjungan dari kerabat ataupun orang lain yang pernah sembuh dari penyakit serupa. Manajemen nyeri, pengertian mengenai penyakit serta terapi gejala sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas hidup penderita GBS. Saat pasien GBS mulai sembuh, penggunaan otot-otot mulai kembali, sehingga perlu latihan otot-otot tersebut. Pasien akan terkejut betapa sedikit hal yang dapat ia kerjakan setelah berbaring beberapa minggu di tempat tidur saja. Fisioterapis dan terapis okupasi akan mengajarkan latihan untuk memperkuat otot-otot, serta menggunakan otot-otot tersebut secara benar dan meningkatkan stamina. Hari dimana seorang pasien dengan paralisis mampu duduk kembali merupakan suatu hari besar yang sangat berarti, sementara hari-hari besar lainnya adalah hari dimana penderita dapat duduk tanpa bantuan, duduk di kursi roda, dan berjalan dengan atau tanpa alat bantu, seiring dengan terlatihnya otot mereka. Interval antara fase-fase ini dapat sangat panjang dan melelahkan, berkisar dari satu setengah bulan hingga satu setengah tahun, tergantung dari kondisi pasien. Rehabilitasi juga berkaitan erat dengan kondisi psikologis penderita, serta adanya periode ‘mati’ dimana tidak dijumpai adanya perbaikan apapun. Untuk meningkatkan motivasi pasien, fisioterapis perlu mengukur peningkatan stamina otot yang lambat, karena sesungguhnya rehabilitasi membutuhkan waktu yang panjang dan kesabaran baik dari pasein ataupun personil kesehatan. Endurans hanya dapat dibangun dengan ketekunan; hal ini merupakan sesuatu yang sulit mengingat fakta bahwa penderita GBS memerlukan periode penyembuhan yang panjang antara tahapan-tahapan latihan. Pada pasien yang sulit menjumpai adanya perbaikan, mungkin perlu dibuat tujuan-tujuan jangka pendek bagi mereka sendiri; misalnya dimulai dari berjalan, kemudian jogging, lalu mengendarai sepeda, dsb. Mulailah dari tahap yang mudah; saat tubuh mulai belajar dan mengetahui kemampuannya sendiri, tujuan yang ingin dicapai dapat lebih ditingkatkan secara gradual. Jangan lupa perlu adanya waktu istirahat diantara tahapan latihan, atau mungkin interval 1 atau 2 hari diantaranya. Selama fase rehabilitasi, pasien diajarkan untuk menggunakan energinya yang terbatas secara bijak, antara lain dengan menggerakan badannya secara tepat, menghindari rutinitas yang tidak perlu, dan mengkompensasikan aktivitas yang sulit dengan gerakan ataupun aktivitas lainnya. Kekuatan otot umumnya kembali pertama-tama pada lengan, kemudian tangan, sehingga terapi fisik dimulai dengan latihan pada lengan dan bahu. Hal-hal mendasar seperti halnya memegang pensil dan menggunakannya harus kembali dipelajari. Kekuatan otot perlu diperiksa secara rutin; otot yang lemah perlu dicari untuk kemudian dilatih dan diperkuat melalui latihan-latihan penguatan spesifik. Dengan bertambahnya kekuatan otot, rasa lelah akan semakin berkurang. Pasien akan belajar untuk memacu dirinya sendiri, meski masih dalam observasi; dengan melakukan bermacam latihan sampai mencapai keterbatasan endurans, namun tidak melebihi batasnya. Seorang terapis harus mampu mengenali tanda dan peringatan dari tubuh apabila batasan itu terlampaui, antara lain adanya kesemutan, baal ataupun abnormalitas sensorik lainnya pada kelompok otot tertentu. Terlalu memaksakan diri akan berakibat timbulnya nyeri, spasme, kelemahan, dan fatigue pada otot yang sementara, sehingga rehabilitasi haruslah dihentikan sementara sampai ototnya kembali pulih. Di sinilah pasien akan belajar mengetahui keterbatasannya, bagaiman menilai tanda dan gejala dari tubuhnya sendiri, serta kebutuhannya akan istirahat. Dalam aktivitas sehari-hari, kadang dibutuhkan usaha dan konsentrasi lebih, sehingga hal ini perlu dimengerti dan dihargai oleh orang-orang di sekeliling penderita. Kelelahan atau berkurangnya endurans otot merupakan masalah baik selama proses rehabilitasi dan masa penyembuhan. Hampir 80% penderita yang nampaknya sembuh dan hidup normal kembali, kadang masih dijumpai kelelahan ataupun fatigue; dan pada beberapa kasus, hal ini tidak kunjung berkurang. Seperti halnya rasa kesemutan dan nyeri, nampaknya penderita harus belajar untuk hidup dengan hal itu sebagai bagian hidupnya. Sekitar 50-75% pasien yang sembuh mengeluh adanya nyeri tertusuk jarum serta sensasi sensorik yang aneh pada tungkai dan kaki. Gejala tersebut bertambah pada sore dan malam hari, serta setelah berjalan jauh. Hal ini dapat bertahaan sampai beberapa tahun setelah serangan GBS pertama, sedangkan gejala persisten mungkin dipengaruhi oleh derajat kerusakan aksonal yang terjadi. Analgetika niasa mungkin tidak dapat mengurangi gejala, sehingga perlu ditambah dengan medikasi lainnya. Selama penderita menjalani rehabilitasi, terkadang perlu diperhatikan adanya suatu kebutuhan khusus, seperti halnya keinginan pasien untuk memikirkan kembali hidupnya, rumah, mobil, hobi, pekerjaan, dsb. Hal ini diharapkan dapat menambah kualitas hidup penderita dan membuatnya dapat hidup senormal mungkin. Bila diperlukan, konseling profesional dapat diadakan untuk meningkatkan rasa percaya diri serta harga dirinya sebagai manusia.

Mengatasi Masalah Buang Air Besar

Banyak di antara para pejuang kanker yang dalam perkembangan penyakitnya mengalami masalah dalam buang air besar (BAB). Diperkirakan 8-21% mengalami sembelit atau kesulitan buang air besar, yaitu BAB kurang dari tiga kali seminggu. Konsistensinya dapat keras, normal, atau lunak, biasanya disertai kembung dan sensasi pengeluaran kotoran yang tidak tuntas.

sembelit

SEMBELIT: dialami 21% pejuang kanker.
Sembelit bisa disebabkan oleh kurang gerak, kelemahan umum, kebiasaan menahan BAB, gangguan metabolik (dehidrasi, kurang serat & residu makanan, diabetes, hiperkalsemia, hipokalemia, uremia), gangguan neurologis (tumor otak, gangguan pada tulang belakang, infiltrasi serabut saraf), gangguan psikologis (depresi berkepanjangan, stres mendadak), gangguan kolorektal (penyempitan/penyumbatan usus, massa tumor di rongga panggul, fibrosis akibat radiasi, nyeri pada dubur), karena pengaruh obat tertentu (golongan narkotika, antidiare, antidepresan, antasida, antikanker, diuretik, dll), dan banyak penyebab lainnya.

Berbeda dengan sembelit pada orang sehat yang umumnya dapat diatasi dengan memperbanyak minum, memperbanyak konsumsi serat makanan, atau memperbanyak gerak, hal-hal demikian belum tentu dapat dilakukan oleh pejuang kanker. Karena tidak sedikit pejuang kanker stadium lanjut yang fungsi organ-organ tubuhnya tidak normal lagi. Karena itu, untuk mengatasi kesulitan BAB harus diketahui penyebabnya lebih dahulu.

Namun ada hal-hal sederhana yang dapat dilakukan pejuang kanker untuk memperlancar BAB, antara lain:
• Jadwal makan tetap dan teratur dari hari ke hari.
• Mencoba BAB dengan jadwal yang tetap dan teratur setiap hari.
• Minum segelas air hangat segera setelah bangun tidur di pagi hari.
• Minum 8-10 gelas air putih, jus, atau kuah sayur setiap hari jika tidak mengalami gangguan ginjal atau gangguan berkemih. Air rebusan temulawak bahkan dapat memperlunak tinja.
• Batasi minuman dan makanan yang merangsang produksi gas.
• Untuk mengurangi udara yang tertelan, makanlah tanpa banyak bicara, minum tanpa menggunakan sedotan, dan jangan mengunyah permen karet.
• Jika tidak ada penyumbatan/penyempitan usus, perbanyak konsumsi serat makanan terutama yang dapat memperlunak tinja misalnya pepaya dan pisang ambon.
• Jika memungkinkan dan tidak ada gangguan syaraf/tulang, lakukan olahraga sesuai kemampuan. Jika tidak mampu bangkit dari tempat tidur, sering menggerakkan kaki dan berganti posisi dapat berfungsi sebagai olahraga ringan.
• Jika cara-cara di atas tidak berhasil, mintalah saran pencahar pada dokter. Ada banyak jenis pencahar yang bekerja dengan cara yang berbeda-beda (dan tidak selalu cocok dengan kondisi anda). Gunakan seperlunya, karena terlalu sering menggunakan pencahar justru membuat usus semakin malas untuk berkontraksi dan memperparah sembelit.
• Jika selama tiga hari berturut-turut tidak dapat BAB, segeralah konsultasi ke dokter.

DIARE

Ketika sebagian pejuang kanker mengalami konstipasi atau sembelit, 6-10% lainnya justru mengalami diare, yakni BAB cair lebih dari tiga kali sehari. Penyebabnya juga bermacam-macam, antara lain kanker usus, usus terjepit massa tumor, diet yang tidak tepat (keracunan makanan, terlalu tinggi serat, makanan pedas, alkohol), obat-obatan (pencahar, antibiotik, sitotoksik, antiradang), infeksi, radang usus, malabsorbsi lemak, tindakan bedah, diabetes, kecemasan, dan lain-lain.

Sama seperti konstipasi, untuk mengatasi diare pada pejuang kanker juga perlu mengenali penyebabnya lebih dulu. Namun ada hal-hal bersifat umum yang bisa dilakukan pejuang kanker di rumah:

* Untuk mencegah dehidrasi, minum banyak cairan (air putih, oralit, teh, kuah sup, sari kunyit) dalam suhu normal, sedikitnya secangkir setiap selesai BAB. Hindari minuman terlalu panas/dingin.
* Sering makan dalam porsi kecil.
* Hindari makanan yang terlalu berbumbu, berminyak, terlalu manis.
* Hindari susu. Tapi yoghurt boleh.
* Hindari buah dan sayuran mentah, juga makanan pemicu gas. Kurangi porsi makanan berkadar serat tinggi, termasuk biji-bijian.
* Jika diare berlanjut atau bahkan semakin parah, segera ke dokter.

BAB DI TEMPAT TIDUR

Masih ada lagi persoalan yang menyangkut BAB. Bagaimana kalau penderita tidak mampu bangkit lagi, sehingga terpaksa harus buang air besar di atas ranjang?

Cara yang lazim dipakai adalah menggunakan pispot. Alat sederhana ini serbaguna, dapat dipakai untuk buang air kecil maupun buang air besar. Mudah digunakan, dan juga dapat digunakan berulangkali.

Sayangnya tidak semua orang mau atau bisa BAB menggunakan pispot. Adanya sesuatu yang mengganjal, dingin dan keras, menimbulkan rasa tidak nyaman sehingga tidak jarang BAB-nya “tidak bisa keluar”. Kalaupun “bisa keluar”, bau yang ditimbulkannya cukup mengganggu. Karena beda dengan BAB di WC yang dapat langsung disiram, BAB di pispot tidak bisa disiram sampai prosesnya selesai.

Alternatif kedua adalah penggunaan popok/diapers. Cara ini juga cukup praktis. Penggunanya dapat BAK maupun BAB sewaktu-waktu tanpa harus memanggil perawat/pendampingnya. Setelah selesai diapers-nya tinggal dibungkus rapat, lalu dibuang. Tetapi pemakaian diapers terus-menerus dapat membuat kulit terlalu lembab. Selain menimbulkan perasaan lembab/becek yang sangat tidak nyaman, juga dapat mengiritasi kulit, bahkan menimbulkan infeksi. Karena itu setelah terpakai diapers perlu segera diganti agar kulit tetap kering.

Selain kedua cara di atas, sekarang ada pilihan lain, yaitu anal irrigation system. Menggunakan alat mirip kateter untuk buang air kecil, tetapi khusus untuk BAB. Pasien cukup berbaring miring di tempat tidur, kemudian ujung kateter dimasukkan secara lembut ke dalam dubur. Setelah kateter terpasang, tinggal memasang kantong penampung kotoran pada ujung luar kateter. Dengan bantuan air bersih biasa, isi usus besar dapat dikuras bersih dan langsung tertampung di dalam kantong yang tertutup rapat, sehingga kotoran, cairan, maupun baunya tidak tercecer ke luar, bahkan tidak menyentuh kulit luar penderita. (Titah Rahayu/rumahkanker.com)

Masalah Psikologi Pada Penderita Kanker

Pengobatan holistic atau holistic medicine didasarkan atas dua hal yaitu pengobatan fisik dan pengobatan psikis dan keduanya sangat erat hubungannya. Seperti yang pernah dikatakan oleh ahli filosofi Plato, “Tidak ada gunanya mengobati badan tanpa mengobati fikirannya”. Pemikiran ini sangat mengena terutama pada para penderita penyakit berat, termasuk didalamnya penderita kanker. Badan yang sakit akan mempengaruhi fikiran dan sebaliknya juga demikian. Badan yang sehat juga akan berpengaruh menyehatkan fikiran dan demikian juga sebaliknya.

Ilmu pengetahuan juga membuktikan bahwa kondisi emosional seseorang akan mempengaruhi tingkat kekebalan tubuh manusia. Orang yang berada pada tingkat emosional yang rapuh akan lebih cepat tertularkan penyakit, karena tingkat kekebalan tubuhnya menurun akibat kondisi emosi yang buruk tadi. Kondisi emosi yang positif, penuh pengharapan, akan meningkatkan daya tahan tubuh kita, sedangkan sikap negatif, takut, dan pasrah, akan menurunkan daya kekebalan tubuh.

Perubahan kondisi emosi ini akan diteruskan didalam rangkaian proses biokimia di dalam badan kita. Hal yang sebaliknya juga terjadi, di mana perbaikan sel-sel ditubuh kita akan juga dapat memperbaiki tingkat emosional dan fikiran kita. Dengan pemahaman diatas, pengobatan yang menyeluruh [holistic] adalah merupakan cara penyembuhan yang perlu diupayakan, di mana keduanya diperbaiki dalam waktu yang bersamaan.

Untuk itu pemahaman akan kondisi psikis yang terjadi bagi penderita penyakit berat ini perlu diketahui, bukan saja oleh para penderita, tetapi juga bagi keluarga, orang disekelilingnya dan para dokter atau orang yang turut membantu penyembuhan penderita ini.

TAKUT

stresKondisi emosi yang terburuk yang selalu ditemui pada pasien penyakit kanker adalah perasaan takut. Hal ini sangat beralasan dan sepenuhnya gampang dimengerti. Tingkat ketakutan yang terjadi sangat tinggi dan melebihi seluruh jenis penyakit yang ada. Mengapa demikian? Penderita yang divonis mengidap kanker dihadapkan bukan hanya atas kemungkinan hidup yang kecil, namun juga penderitaan fisik dan psikis yang berkepanjangan. Hal ini sangat menakutkan. Pada umumnya setiap orang pasti telah pernah melihat pasien2 kanker yang menderita secara fisik pada masa pengobatan, menjalani treatment yang melelahkan dan menyakitkan dengan efek sampingan yang mengerikan tanpa perubahan yang berarti, mendengar biaya pengobatan yang sangat mahal tanpa kepastian penyembuhan.

Masalah penerimaan pasien atas berita diagnosa penyakit ini juga diperburuk bila cara penyampaiannya juga dilakukan dengan cara buruk. Pada umumnya dokter2 jarang yang dapat menyampaikan berita buruk dengan cukup “baik”. Mereka memang tidak terdidik untuk ini dan karena itu mereka akan menyampaikannya dengan singkat dan “dingin”. Dokter2 sebenarnya tidak menyukai pekerjaan ini, namun merupakan bahagian dari pekerjaannya dan akhirnya harus melakukannya tanpa tau caranya. Pada saat pemberitahuan hasil diagnosa buruk ini, pasien sangat memerlukan kehangatan dan moral support yang dapat mencegah penurunan kondisi emosionalnya. Para dokter ini tidak pernah dididik untuk berkomunikasi dengan pasiennya, terutama dalam penyampaian hal2 kritis seperti ini. Pada umumnya, dokter hanya mengandalkan kemampuan natural yang dimilikinya, tanpa benar2 dilatih. Pasien dilain pihak selalu lebih menghormati dokter yang dapat berkomunikasi baik, daripada yang tidak [walaupun secara teknis sama baiknya atau lebih baik]. Ini adalah dilema yang panjang.

Tanpa adanya komunikasi yang baik, pasien2 yang diopname di rumah sakit pada umumnya merasa tidak berdaya, tertekan dan pasrah atas apa saja yang akan dilakukan oleh dokter atau system pengobatan yang ada. Hal ini sangat merugikan pasien dan memperparah kondisi kesehatannya.

Penelitian menunjukkan bahwa kondisi psikis seseorang yang buruk sekali juga dapat menyebabkan munculnya penyakit kanker. Penelitian menunjukkan bahwa penyakit kanker dapat muncul dalam waktu kurang dari 18 bulan terhadap orang2 yang mengalami masalah hidup seperti kehilangan pekerjaan, pensiun, cerai, kematian keluarga dan masalah hidup lainnya. Hal ini terjadi sering disebut sebagai jebakan hidup [life trap], di mana seseorang tiba2 merasa terperangkap didalam situasi yang sangat sulit dan tidak dapat keluar dari dalamnya. ”Saya rasanya lebih baik mati saja,” begitu kata penderita ini.

Salah satu therapy pengobatan kanker yaitu German New Medicine mengkhususkan diri dalam therapy pengobatan psikis, karena percaya dan membuktikan bahwa timbulnya penyakit berat adalah diakibatkan oleh kondisi otak seseorang yang luka akibat kejadian psikis yang terjadi dan tidak diantisipasi oleh penderita. Pengobatan psikis ini ternyata langsung dapat menyembuhkan penyakit fisik yang ada.

TEKANAN FIKIRAN [STRESS]

Apakah kondisi stress dapat mengakibatkan kanker? Sejumlah ahli berpendapat bahwa stress secara langsung dan sendirian, kemungkinan tidak dapat menimbulkan kanker, namun bila kondisi pasien tidak memiliki daya kekebalan tubuh yang baik, apakah akibat fungsi organ yang tidak baik, nutrisi yang tidak baik, gaya hidup yang tidak baik, maka stress dapat saja menjadi pemicu terjadinya kanker atau penyakit berat lainnya dengan mudah.

Bila penyakit berat ini berhubungan langsung dengan kematian, maka kondisi ini menimbulkan tekanan fikiran lanjutan bagi penderita. Ada 5 macam fase reaksi manusia bila ia dihadapkan dengan kematian. Fase pertama adalah Penyangkalan [denial]. Umumnya orang ini akan berkata “Saya baik-baik saja koq. Ini diagnosa yang salah.” Sikap ini biasanya temporer saja. Fase kedua, orang ini akan Marah, dan berkata “Mengapa saya?” Fase ketiga, bersikap Menawar. “Saya rela mati, tetapi kalau boleh berikan saya waktu sedikit…” Fase keempat, Depresi. Orang ini akan menyendiri, tidak berkomunikasi, tidak merasakan cinta maupun perhatian yang diberikan orang di sekelilingnya. Pada saat ini tidak ada gunanya menghibur pasien ini. Dia perlu berdamai dengan dirinya sendiri. Fase terakhir adalah Menerima, di mana pasien akan berkata “Baiklah, saya akan hadapi dengan sebaik-baiknya.” Fase-fase di atas tadi tidak selalu secara teratur dilalui, dapat saja dilampaui dengan cepat dari fase 1 ke 4 misalnya, tergantung dari kondisi psikis pasien.

Pengamatan dilakukan terhadap sejumlah pasien kanker payudara yang telah melalui proses mastektomi untuk melihat perkembangan mereka. Pengamatan menunjukkan bahwa ada 4 kategori kondisi para pasien yaitu pasien yang berjuang untuk kesembuhan, pasien yang “menyangkal” bahwa kondisinya buruk, pasien yang “pasrah” akan keadaan kesehatannya, dan terakhir adalah pasien yang tidak lagi berharap sembuh. Dalam waktu 5-10 tahun kemudian survey menunjukkan bahwa 80% dari golongan pertama yaitu yang berjuang untuk kesembuhannya benar2 sembuh dan hanya 20% dari group terakhir yang tidak berharap sembuh menjadi sembuh.

Penelitian lainnya juga menunjukkan fenomena yang sangat menarik: 15-20% pasien kanker secara sadar atau tidak sadar berharap untuk mati, 60-70% dari mereka berharap untuk sembuh tetapi hanya pasif dan berharap agar para dokter saja yang bekerja menyembuhkannya. Sisanya 15-20% pasien adalah pasien2 yang tidak ingin menjadi korban penyakit ini, yang secara aktif terus menerus mencari cara penyembuhan yang mungkin, tidak selalu menuruti saran para dokter, ingin mengontrol dirinya sendiri, rajin bertanya. Pasien2 yang tidak kooperatif dan susah diatur, pada umumnya memiliki kemungkinan sembuh yang tinggi. Mereka ini memiliki system kekebalan tubuh yang tinggi akibat dari sikapnya tadi.

BAGAIMANA CARA MENGHADAPI HAL INI?

Penjelasan atau cara yang dibutuhkan disini tidak akan dibuat secara rinci dan hanya berupa ulasan umum yang perlu didalami lagi. Seseorang harus dapat mengendalikan fikirannya sendiri. Fikiran manusia dapat menjadi teman dan juga sebaliknya dapat menjadi musuhnya sendiri. Cara pengendalian ini umumnya dapat dilakukan dengan meditasi, berdoa, berbicara dengan diri sendiri melalui visualisasi dan cara2 lain. Yoga atau cara meditasi lain terbukti dapat membantu manusia untuk mengosongkan fikiran dan seterusnya membangun sikap mental yang baik terhadap tantangan fisik yang ada. Salah satu teknik yang dinamakan “Kekuatan dari keinginan” [Power of Will], di mana secara mental seseorang melatih dirinya dan mentalnya untuk percaya seyakin-yakinnya bahwa ia dapat menghadapi tantangan ini, terbukti dapat membantu penyembuhan berbagai macam penyakit. Teknik2 pengendalian fikiran banyak tersedia dan dapat dipelajari dan terbukti sangat-sangat membantu penyembuhan berbagai penyakit.

Pada saat yang sama juga diharapkan pasien dapat memperbaiki kondisi fisiknya dengan mengkonsumsi nutrisi yang baik dan maksimal, mengkonsumsi bahan2 atau obat penyembuh dan sebaliknya sudah menghindari sumber atau potensi penyakit yang diidapnya berupa lingkungan yang tidak sehat, nutrisi yang toxic dsb, sehingga proses penyembuhan terjadi secara parallel antara fisik dan psikis.

Berdoa juga terbukti sangat ampuh untuk menolong kesembuhan. Penelitian selalu menunjukkan bahwa pasien yang berdoa atau berbicara kepada khaliknya yang lebih tinggi, terbukti persentase kesembuhannya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki agama atau tidak percaya pada Tuhan.

Berdamai dengan diri sendiri melalui meditasi maupun visualiasi dan afirmasi juga dapat membebaskan diri dari rasa takut, marah, dan kecewa, yang sangat erat hubungannya dengan kondisi penyakit [lihat contoh German New Medicine].

Berbagai cara, teknik dan therapy kejiwaan dan psikologi perlu dan dapat diterapkan untuk membantu seseorang untuk merawat dan menyembuhkan jiwanya dan pada gilirannya akan meningkatkan kekebalan tubuhnya sendiri dan membantu penyembuhan penyakit yang ada. Semoga informasi ini bermanfaat. ( Omri Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot. Silakan aktifkan Javascript untuk melihatnya. /rumahkanker.com)
[Diambil dari beberapa sumber, GT, Beata Bishop, Merkola, Mike Adams]
Saat pertama kali mendengarnya, pasti Anda sekeluarga sangat terpukul, cemas, dan takut. Itu sangat wajar. Saya pun pernah mengalaminya, bahkan berkali-kali. Saat dokter mengatakan ibu saya menderita kanker hati stadium IV. Saat mendengar nenek saya menderita kanker paru-paru. Saat kakek saya menderita kanker nasofaring. Saat ibu mertua saya menderita kanker usus besar. Dan saat adik perempuan saya divonis menderita kanker serviks yang poorly differentiated (paling ganas).

Sungguh hari-hari panjang yang penuh kegelisahan!

Kata “kanker” bagaikan palu godam yang memukul kita sampai nyaris hancur tak bersisa. Seperti kiamat rasanya. Tetapi tidak. Diagnosa kanker bukan akhir segalanya. Justru itu adalah sebuah awal. Awal perjuangan dan perlawanan kita terhadap kanker.

Tidak seperti 10 atau 20 tahun yang lalu, saat ini dunia kedokteran telah mengalami kemajuan sangat pesat. Walaupun prosedur pengobatan kanker sekilas tampak sama dari tahun ke tahun, berbagai teknik pengobatan baru terus ditemukan, berbagai obat-obat baru yang lebih efektif terus dikembangkan, dan berbagai sarana pendeteksi bekerja semakin canggih sehingga bisa mendeteksi kanker lebih dini dan lebih teliti.

Tidak mengherankan kalau para periset berani mencanangkan pada tahun 2015 kanker bisa disembuhkan secara total seperti halnya flu atau diare Smile

Jadi, hal pertama yang harus Anda lakukan kalau didiagnosa menderita kanker adalah bangkit dari rasa terpukul, cemas, dan takut itu. Akan sangat membantu kalau Anda bisa bicara dengan seseorang. Keluarga, sahabat, kerabat, atau mantan penderita kanker yang telah sembuh, biasanya otomatis memberikan dukungan ketika tahu Anda menderita kanker. Inilah enaknya jadi orang Indonesia yang rasa kebersamaannya masih sangat kuat.

Saat ini di berbagai rumah sakit rumah sakit besar di Indonesia seperti RS Dr. Soetomo Surabaya atau RS Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta telah disediakan klinik khusus kanker. Di sana ada kelompok relawan yang bekerja sukarela mendampingi Anda selama dirawat di rumah sakit, bahkan bersedia datang ke rumah Anda. Mereka ini biasanya mantan penderita kanker yang telah sembuh, jadi tahu persis apa yang Anda rasakan dan apa yang Anda butuhkan.

Selain itu, Anda bisa bergabung dengan berbagai komunitas kanker di internet. Ada banyak sekali forum atau milis khusus kanker, sebagian bahkan merupakan komunitas khusus penderita kanker jenis tertentu. Di sana Anda bisa bertukar pikiran dengan orang-orang yang mengalami situasi yang sama dengan Anda –jadi lebih bisa memahami Anda–, sekedar curhat, atau belajar dari pengalaman orang lain.

Tips:
Tetaplah tenang, berdoa, dan berusaha. Percayalah pada saya, bahwa Tuhan Maha Menyayangi Anda, dan semua situasi yang menimpa Anda pasti mengandung hikmah baik yang akan Anda syukuri kemudian. (Titah Rahayu/rumahkanker.com)

Depresi
Perasaan tertekan atau depresi sering muncul pada penderita kanker maupun keluarganya. Itu sangat wajar. Tetapi jika terjadi berkepanjangan, apalagi sampai mempengaruhi aktivitas keseharian, perlu mendapat perhatian khusus.

Depresi yang cukup parah terjadi pada kurang lebih 25% penderita kanker, menimbulkan penderitaan yang lebih berat, memperlemah fungsi organ-organ tubuh, dan pada gilirannya mengacaukan jadwal pengobatan.

Untungnya hal ini dapat diobati. Yang perlu dilakukan adalah mencermati kalau-kalau muncul gejala depresi seperti yang tercantum di bawah. Jika memang ada dan tidak hilang dalam waktu dua minggu, bicarakanlah dengan dokter yang merawat Anda. Dokter akan memberikan obat antidepresan, konseling, terkadang juga terapi lain.
Gejala Yang Harus Dicermati:

* Perasaan sedih dan kosong sepanjang hari.
* Kehilangan minat/kegembiraan melakukan hal-hal yang pernah disenangi.
* Gangguan pola makan (kehilangan selera atau justru makan berlebihan), atau perubahan berat badan yang cukup mencolok.
* Gangguan pola tidur (sulit tidur, mudah terbangun, atau tidur berlebihan).
* Tampak kuyu dan gerak-geriknya semakin lamban.
* Perasaan letih dan lemah setiap hari.
* Perasaan bersalah, tak berharga, dan tak berdaya.
* Kesulitan berkonsentrasi, mengingat sesuatu, atau mengambil keputusan.
* Pemikiran ke arah kematian atau bunuh diri.
* Perubahan mood yang ekstrim, dari depresi menjadi kemarahan atau sangat bersemangat.

Saran untuk Penderita:

* Membicarakan perasaan-perasaan atau ketakutan-ketakutan yang Anda atau keluarga Anda miliki. Merasa sedih atau frustrasi itu normal kok.
* Saling mendengarkan dengan sungguh-sungguh, dan memutuskan bersama apa yang bisa dilakukan untuk saling meringankan.
* Mendorong, tetapi bukan memaksa, untuk saling bersikap terbuka.
* Mencari bantuan melalui konseling atau support group.
* Berdoa, bermeditasi, atau melakukan upaya spiritual lain.
* Melakukan relaksasi beberapa kali sehari. Pejamkan mata, tarik nafas dalam-dalam, pusatkan perhatian pada bagian-bagian tubuh, lemaskan mulai dari ujung kaki sampai ujung kepala. Bayangkan Anda berada di tempat yang sangat menyenangkan dan sangat Anda sukai.
* Membicarakannya dengan dokter yang merawat Anda, psikolog, psikiater, atau penasehat spiritual Anda.

Saran Untuk Pendamping:

* Mengajak penderita mengungkapkan perasaan-perasaan maupun apa yang dipikirkannya, tetapi jangan memaksa.
* Dengarkan pembicaraannya baik-baik. Boleh saja memberikan komentar atau menyatakan pendapat lain, tetapi jangan menghakimi.
* Hindari menyuruhnya secara langsung untuk “bergembira” saat ia sedang merasa tertekan atau sangat sedih.
* Putuskan bersama apa yang bisa dilakukan untuk membuat situasinya lebih baik.
* Jangan mengajaknya beradu argumen jika ketakutan, kegelisahan, atau depresinya cukup parah. Lebih baik ajaklah ke dokter atau berikan bantuan lain.
* Libatkan penderita dalam aktivitas sehari-hari yang bisa dinikmatinya.
* Jika penderita minum obat antidepresan, doronglah ia terus meminumnya sampai kondisinya membaik, biasanya perlu waktu 2-4 minggu, atau bantulah mencari alternatif pengobatan lain jika kondisinya tidak kunjung membaik.
* Pendamping juga bisa mengalami depresi. Jadi semua saran di atas berlaku juga untuk Anda.
* Untuk menjaga agar Anda tidak merasa depresi, luangkan waktu bersama teman-teman atau lakukan aktivitas yang Anda sukai. (Titah Rahayu/rumahkanker.com)
http://rumahkanker.com/index.php?option=com_content&view=article&id=23:depresi&catid=13:perawatan-psikis&Itemid=72

PERIKSA PAYUDARA SENDIRI,,,YUK!!!!

Jumlah penderita kanker payudara di Indonesia menempati urutan kedua setelah kanker leher rahim. Penderitanya pun ada yang baru berusia 18 tahun. Padahal di negara-negara lain, Eropa atau Amerika misalnya, jumlah penderita kanker payudara tidak begitu banyak dibanding dengan jumlah penderita kanker jenis lain. Mengapa demikian?

Hal ini disebabkan di negara-negara tersebut kesadaran untuk melakukan deteksi dini sudah berkembang baik. Kebanyakan kanker payudara ditemukan pada stadium awal, sehingga segera dapat diobati dan disembuhkan. Sedang di negara kita, kebanyakan kasus kanker ditemukan pada stadium lanjut, ketika penyembuhan sudah sulit dilakukan.

Padahal, mendeteksi kanker payudara stadium dini sangat mudah, dan bisa dilakukan sendiri di rumah. Cukup beberapa menit, sebulan sekali, dengan melakukan pemeriksaan payudara sendiri (Sadari/Sarari).

Memang, tidak ada wanita yang ingin melakukan Sadari/Sarari. Karena bisa jadi muncul bayangan menakutkan: “bagaimana kalau saya benar-benar menemukan benjolan?”. Atau mungkin menemukan “sesuatu” yang tidak dimengerti apa maknanya.

Tetapi, semakin sering Anda memeriksa payudara Anda, Anda akan semakin mengenalnya, dan semakin mudah menemukan sesuatu yang tidak beres –jika ada. Bagaimanapun Sadari/Sarari adalah bagian penting dari perawatan kesehatan, yang dapat melindungi Anda dari resiko kanker payudara.

Pemeriksaan payudara sendiri
Pemeriksaan payudara sendiri
Payudara memiliki bagian-bagian (lingkungan) yang kalau diraba terasa berbeda-beda. Sisi atas agak ke samping (dekat ketiak) cenderung terasa bergumpal-gumpal besar. Payudara bagian bawah terasa seperti hamparan pasir atau kerikil. Sedang bagian di bawah puting susu terasa seperti sekumpulan biji-bijian yang besar. Kadang ada juga gumpalan yang menyerupai sebuah mangkuk. Kondisi ini bisa berbeda pada tiap wanita.

Pada tahap awal, akan cukup membantu jika Anda membuat “peta lingkungan payudara”, untuk dibandingkan pada pemeriksaan dari bulan ke bulan.

Yang terpenting adalah rasakan bagaimana kondisi payudara Anda sendiri. Adakah sesuatu yang terasa berbeda dibanding lingkungan sekitarnya? Misal, di area “gumpalan besar” terasa ada benjolan kecil sebesar kacang hijau? Atau di area “hamparan pasir” terasa ada “kerikil” yang agak besar? Atau adakah perubahan kondisi payudara dibanding pemeriksaan sebelumnya? Itu semua bisa dideteksi dengan memeriksa payudara sendiri.

Sulitkah melakukan Sadari/Sarari itu? Sama sekali tidak. Sebaiknya dilakukan seminggu sesudah menstruasi, ketika kondisi payudara lunak dan longgar, sehingga memudahkan perabaan. Untuk wanita yang sudah mengalami menopause boleh dilakukan kapan saja, asal rutin setiap bulan.

Akan lebih baik jika disiapkan buku catatan khusus untuk mencatat hasil pemeriksaan Anda, juga kondisi dan perubahan payudara Anda dari waktu ke waktu. Bila perlu lengkapi dengan gambar ilustrasi untuk memperjelas lokasi kelainan yang ditemukan.

Pemeriksaan lengkap payudara sendiri dibagi atas beberapa tahap:
1. Melihat

Tanggalkan seluruh pakaian bagian atas. Berdirilah di depan cermin dengan kedua lengan tergantung lepas, di dalam ruangan yang terang. Perhatikan payudara Anda:

* Apakah bentuk dan ukurannya kanan dan kiri simetris?
* Apakah bentuknya membesar/mengeras?
* Apakah arah putingnya lurus ke depan? Atau berubah arah?
* Apakah putingnya tertarik ke dalam?
* Apakah puting/kulitnya ada yang lecet?
* Apakah kulitnya tampak kemerahan? Kebiruan? Kehitaman?
* Apakah kulitnya tampak menebal dengan pori-pori melebar (seperti kulit jeruk)?
* Apakah permukaan kulitnya mulus, tidak tampak adanya kerutan/cekungan?

Ulangi semua pengamatan di atas dengan posisi kedua tangan lurus ke atas. Setelah selesai, ulangi lagi pengamatan dengan kedua tangan di pinggang, dada dibusungkan, kedua siku ditarik ke belakang. Semua pengamatan ini bertujuan untuk mengetahui adanya tumor yang terletak dekat dengan kulit.
2. Memijat

Dengan kedua belah tangan, secara lembut pijat payudara dari tepi hingga ke puting, untuk untuk mengetahui ada-tidaknya cairan yang keluar dari puting susu (seharusnya tidak ada, kecuali Anda sedang menyusui).
3. Meraba

Sekarang berbaringlah di atas tempat tidur untuk memeriksa payudara satu demi satu. Untuk memeriksa payudara kiri, letakkan sebuah bantal tipis di bawah bahu kiri, sedang lengan kiri direntangkan ke atas di samping kepala atau diletakkan di bawah kepala.

Gunakan keempat jari tangan kanan yang saling dirapatkan untuk meraba payudara. Rabaan dilakukan dengan gerakan memutar (seperti membuat lingkaran kecil-kecil), mulai dari tepi payudara hingga ke puting susu. Sesudah itu geser posisi jari sedikit ke sebelahnya, dan lakukan lagi gerakan memutar dari tepi payudara sampai puting susu. Lakukan terus secara berurutan sampai seluruh bagian payudara diperiksa. Untuk memudahkan gerakan, Anda boleh menggunakan lotion atau sabun sebagai pelicin.

Gerakan memutar boleh juga dilakukan mulai dari puting susu, melingkar semakin lebar ke arah tepi payudara; atau secara vertikal ke atas dan kebawah mulai dari tepi paling kiri hingga ke tepi paling kanan. Yang penting, seluruh area payudara harus tuntas teraba, tak ada yang terlewatkan.

Perlu diperhatikan bahwa masing-masing gerakan memutar harus dilakukan dengan kekuatan tekanan yang berbeda-beda, setidaknya dengan tiga macam tekanan. Pertama-tama dilakukan dengan tekanan ringan untuk meraba adanya benjolan di dekat permukaan kulit, yang kedua dengan tekanan sedang untuk meraba adanya benjolan di tengah-tengah jaringan payudara, yang ketiga dengan tekanan cukup kuat untuk merasakan adanya benjolan di dasar payudara, dekat dengan tulang dada/iga.

Setelah selesai dengan payudara kiri, pindah posisi bantal dan lengan, lakukan pemeriksaan pada payudara kanan dengan menggunakan keempat jari tangan kiri.

Kemudian ulangi perabaan seperti poin 3, tetapi dalam posisi berdiri. Untuk memudahkan, bisa dilakukan sambil mandi, saat membalur tubuh dengan sabun.
4. Meraba Ketiak

Setelah itu raba ketiak dan area di sekitar payudara untuk mengetahui adanya benjolan yang diduga suatu anak sebar kanker.

Bila dalam pemeriksaan payudara sendiri ini Anda menemukan suatu kelainan (misal benjolan, sekecil apa pun), segera periksakan ke dokter. Jangan takut dan jangan tunda lagi. Karena kanker payudara yang ditemukan pada tahap dini dan ditangani secara benar dapat sembuh secara tuntas! (Titah Rahayu/rumahkanker.com)
http://rumahkanker.com/index.php?option=com_content&task=view&id=42&Itemid=1

ROKOK DAN REMAJA

ROKOK DAN REMAJA


Merokok di dalam kendaraan umum
Meski semua orang tahu akan bahaya yang ditimbulkan akibat merokok, perilaku merokok tidak pernah surut dan tampaknya merupakan perilaku yang masih dapat ditolerir oleh masyarakat. Hal ini dapat dirasakan dalam kehidupan Merokok di dalam kendaraan umumsehari-hari di lingkungan rumah, kantor, angkutan umum maupun di jalan-jalan. Hampir setiap saat dapat disaksikan dan di jumpai orang yang sedang merokok. Bahkan bila orang merokok di sebelah ibu yang sedang menggendong bayi sekalipun orang tersebut tetap tenang menghembuskan asap rokoknya dan biasanya orang-orang yang ada disekelilingnya seringkali tidak perduli. Hal yang memprihatinkan adalah usia mulai merokok yang setiap tahun semakin muda. Bila dulu orang mulai berani merokok biasanya mulai SMP maka sekarang dapat dijumpai anak-anak SD kelas 5 sudah mulai banyak yang merokok secara diam-diam.
Bahaya Rokok
Kerugian yang ditimbulkan rokok sangat banyak bagi kesehatan. Tapi sayangnya masih saja banyak orang yang tetap memilih untuk menikmatinya. Dalam asap rokok terdapat 4000 zat kimia berbahaya untuk kesehatan, dua diantaranya adalah nikotin yang bersifat adiktif dan tar yang bersifat karsinogenik (Asril Bahar, harian umum Republika, Selasa 26 Maret 2002 : 19). Racun dan karsinogen yang timbul akibat pembakaran tembakau dapat memicu terjadinya kanker. Pada awalnya rokok mengandung 8 – 20 mg nikotin dan setelah di bakar nikotin yang masuk ke dalam sirkulasi darah hanya 25 persen. Walau demikian jumlah kecil tersebut memiliki waktu hanya 15 detik untuk sampai ke otak manusia.
Figure 6. A Normal Chest X-Ray (doctors.net.uk)
Figure 7: An abnormal Chest X-Ray showing a cancer in the patient’s right lung (blue arrow) (doctors.net.uk)
Nikotin itu di terima oleh reseptor asetilkolin-nikotinik yang kemudian membaginya ke jalur imbalan dan jalur adrenergik. Pada jalur imbalan, perokok akan merasakan rasa nikmat, memacu sistem dopaminergik. Hasilnya perokok akan merasa lebih tenang, daya pikir serasa lebih cemerlang, dan mampu menekan rasa lapar. Sementara di jalur adrenergik, zat ini akan mengaktifkan sistem adrenergik pada bagian otak lokus seruleus yang mengeluarkan sorotonin. Meningkatnya serotonin menimbulkan rangsangan rasa senang sekaligus keinginan mencari rokok lagi. (Agnes Tineke, Kompas Minggu 5 Mei 2002: 22). Hal inilah yang menyebabkan perokok sangat sulit meninggalkan rokok, karena sudah ketergantungan pada nikotin. Ketika ia berhenti merokok rasa nikmat yang diperolehnya akan berkurang.
Efek dari rokok/tembakau memberi stimulasi depresi ringan, gangguan daya tangkap, alam perasaan, alam pikiran, tingkah laku dan fungsi psikomotor. Jika dibandingkan zat-zat adiktif lainnya rokok sangatlah rendah pengaruhnya, maka ketergantungan pada rokok tidak begitu dianggap gawat (Roan, Ilmu kedokteran jiwa, Psikiatri, 1979 : 33).
Tipe-tipe Perokok
Mereka yang dikatakan perokok sangat berat adlah bila mengkonsumsi rokok lebih dari 31 batang perhari dan selang merokoknya lima menit setelah bangun pagi. Perokok berat merokok sekitar 21-30 batang sehari dengan selang waktu sejak bangun pagi berkisar antara 6 – 30 menit. Perokok sedang menghabiskan rokok 11 – 21 batang dengan selang waktu 31-60 menit setelah bangun pagi. Perokok ringan menghabiskan rokok sekitar 10 batang dengan selang waktu 60 menit dari bangun pagi.

Menurut Silvan Tomkins (dalam Al Bachri,1991) ada 4 tipe perilaku merokok berdasarkan Management of affect theory, ke empat tipe tersebut adalah :
1. Tipe perokok yang dipengaruhi oleh perasaan positif.
Dengan merokok seseorang merasakan penambahan rasa yang positif. Green (dalam Psychological Factor in Smoking, 1978) menambahkan ada 3 sub tipe ini :
Pleasure relaxation, perilaku merokok hanya untuk menambah atau meningkatkan kenikmatan yang sudah didapat, misalnya merokok setelah minum kopi atau makan.
Stimulation to pick them up. Perilaku merokok hanya dilakukan sekedarnya untuk menyenangkan perasaan.
Pleasure of handling the cigarette. Kenikmatan yang diperoleh dengan memegang rokok. Sangat spesifik pada perokok pipa. Perokok pipa akan menghabiskan waktu untuk mengisi pipa dengan tembakau sedangkan untuk menghisapnya hanya dibutuhkan waktu beberapa menit saja. Atau perokok lebih senang berlama-lama untuk memainkan rokoknya dengan jari-jarinya lama sebelum ia nyalakan dengan api.

2. Perilaku merokok yang dipengaruhi oleh perasaan negatif.
Banyak orang yang menggunakan rokok untuk mengurangi perasaan negatif, misalnya bila ia marah, cemas, gelisah, rokok dianggap sebagai penyelamat. Mereka menggunakan rokok bila perasaan tidak enak terjadi, sehingga terhindar dari perasaan yang lebih tidak enak.

3. Perilaku merokok yang adiktif.
Oleh Green disebut sebagai psychological Addiction. Mereka yang sudah adiksi, akan menambah dosis rokok yang digunakan setiap saat setelah efek dari rokok yang dihisapnya berkurang. Mereka umumnya akan pergi keluar rumah membeli rokok, walau tengah malam sekalipun, karena ia khawatir kalau rokok tidak tersedia setiap saat ia menginginkannya.

4. Perilaku merokok yang sudah menjadi kebiasaan.
Mereka menggunakan rokok sama sekali bukan karena untuk mengendalikan perasaan mereka, tetapi karena benar-benar sudah menjadi kebiasaannya rutin. Dapat dikatakan pada orang-orang tipe ini merokok sudah merupakan suatu perilaku yang bersifat otomatis, seringkali tanpa dipikirkan dan tanpa disadari. Ia menghidupkan api rokoknya bila rokok yang terdahulu telah benar-benar habis.
Tempat merokok juga mencerminkan pola perilaku perokok. Berdasarkan tempat-tempat dimana seseorang menghisap rokok, maka dapat digolongkan atas:
1.Merokok di tempat-tempat Umum / Ruang Publik:

Kelompok homogen (sama-sama perokok), secara bergerombol mereka menikmati kebiasaannya. Umumnya mereka masih menghargai orang lain, karena itu mereka menempatkan diri di smoking area.
Kelompok yang heterogen (merokok ditengah orang-orang lain yang tidak merokok, anak kecil, orang jompo, orang sakit, dll). Mereka yang berani merokok ditempat tersebut, tergolong sebagai orang yang tidak berperasaan, kurang etis dan tidak mempunyai tata krama. Bertindak kurang terpuji dan kurang sopan, dan secara tersamar mereka tega menyebar “racun” kepada orang lain yang tidak bersalah.

2. Merokok di tempat-tempat yang bersifat pribadi:
Di kantor atau di kamar tidur pribadi. Mereka yang memilih tempat-tempat seperti ini sebagai tempat merokok digolongkan kepada individu yang kurang menjaga kebersihan diri, penuh dengan rasa gelisah yang mencekam.
Di toilet. Perokok jenis ini dapat digolongkan sebagai orang yang suka berfantasi
Mengapa Remaja Merokok?


Mengapa Remaja Merokok?
1. Pengaruh 0rangtua
Salah satu temuan tentang remaja perokok adalah bahwa anak-anak muda yang berasal dari rumah tangga yang tidak bahagia, dimana orang tua tidak begitu memperhatikan anak-anaknya dan memberikan hukuman fisik yang keras lebih mudah untuk menjadi perokok dibanding anak-anak muda yang berasal dari lingkungan rumah tangga yang bahagia (Baer & Corado dalam Atkinson, Pengantar psikologi, 1999:294). Remaja yang berasal dari keluarga konservatif yang menekankan nilai-nilai sosial dan agama dengan baik dengan tujuan jangka panjang lebih sulit untuk terlibat dengan rokok/tembakau/obat-obatan dibandingkan dengan keluarga yang permisif dengan penekanan pada falsafah “kerjakan urusanmu sendiri-sendiri”, dan yang paling kuat pengaruhnya adalah bila orang tua sendiri menjadi figur contoh yaitu sebagai perokok berat, maka anak-anaknya akan mungkin sekali untuk mencontohnya. Perilaku merokok lebih banyak di dapati pada mereka yang tinggal dengan satu orang tua (single parent). Remaja akan lebih cepat berperilaku sebagai perokok bila ibu mereka merokok dari pada ayah yang merokok, hal ini lebih terlihat pada remaja putri (Al Bachri, Buletin RSKO, tahun IX, 1991).
2. Pengaruh Teman
Berbagai fakta mengungkapkan bahwa semakin banyak remaja merokok maka semakin besar kemungkinan teman-temannya adalah perokok juga dan demikian sebaliknya. Dari fakta tersebut ada dua kemungkinan yang terjadi, pertama remaja tadi terpengaruh oleh teman-temannya atau bahkan teman-teman remaja tersebut dipengaruhi oleh diri remaja tersebut yang akhirnya mereka semua menjadi perokok. Diantara remaja perokok terdapat 87% mempunyai sekurang-kurangnya satu atau lebih sahabat yang perokok begitu pula dengan remaja non perokok (Al Bachri, 1991)

3. Faktor Kepribadian
Orang mencoba untuk merokok karena alasan ingin tahu atau ingin melepaskan diri dari rasa sakit fisik atau jiwa, membebaskan diri dari kebosanan. Namun satu sifat kepribadian yang bersifat prediktif pada pengguna obat-obatan (termasuk rokok) ialah konformitas sosial. Orang yang memiliki skor tinggi pada berbagai tes konformitas sosial lebih mudah menjadi pengguna dibandingkan dengan mereka yang memiliki skor yang rendah (Atkinson, 1999).

4. Pengaruh Iklan
Melihat iklan di media massa dan elektronik yang menampilkan gambaran bahwa perokok adalah lambang kejantanan atau glamour, membuat remaja seringkali terpicu untuk mengikuti perilaku seperti yang ada dalam iklan tersebut. (Mari Juniarti, Buletin RSKO, tahun IX,1991).

Upaya Pencegahan
Dalam upaya prevensi, motivasi untuk menghentikan perilaku merokok penting untuk dipertimbangkan dan dikembangkan. Dengan menumbuhkan motivasi dalam diri remaja berhenti atau tidak mencoba untuk merokok, akan membuat mereka mampu untuk tidak terpengaruh oleh godaan merokok yang datang dari teman, media massa atau kebiasaan keluarga/orangtua.

Meskipun orang tuamu merokok, kamu tidak perlu harus meniru, karena kamu mempunyai akal yang dapat kamu pakai untuk membuat keputusan sendiri.

Iklan-iklan merokok sebenarnya menjerumuskan orang. Sebaiknya kamu mulai belajar untuk tidak terpengaruh oleh iklan seperti itu.

Kamu tidak harus ikut merokok hanya karena teman-temanmu merokok. Kamu bisa menolak ajakan mereka untuk ikut merokok.

Perilaku merokok akan memberikan dampak bagi kesehatan secara jangka pendek maupun jangka panjang yang nantinya akan ditanggung tidak saja oleh diri kamu sendiri tetapi juga akan dapat membebani orang lain (misal: orangtua)
Agar remaja dapat memahami pesan-pesan tersebut maka dalam kampanye anti merokok perlu disertai dengan beberapa pelatihan, seperti:
Ketrampilan berkomunikasi
Kemampuan untuk membuat keputusan sendiri
Kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan rasa cemas/anxietas
Pelatihan untuk berperilaku assertif
Kemampuan untuk menghadapi tekanan dari kelompok sebaya, dll

Dengan cara-cara diatas remaja akan diajak untuk dapat memiliki kemampuan dan kepercayaan diri dalam menolak berbagai godaan untuk merokok, baik yang datang dari media massa, teman sebaya maupun dari keluarga. Melarang, menghukum, atau pun memaksa remaja untuk tidak merokok hanya akan memberikan dampak yang relatif singkat karena tidak didasari oleh motivasi internal si remaja.
Oleh : Zainun Mutadin, SPsi. MSi.
Jakarta, 6/5/2002

Bahaya rokok dan jantung
Wahai Para Perokok! Sayangilah Jantungmu!

Di Amerika Serikat, diperkirakan 500.000 perokok per tahunnya meninggal  disebabkan serangan jantung; yakni sekitar 75% dari jumlah pasien yang meninggal karena serangan jantung pada umumnya.

Bahaya terbesar yang diakibatkan oleh kebiasaan merokok adalah rentannya jantung dan pembuluh darah perokok dalam mengalami gangguan yang umumnya menyebabkan kematian.

Gaya hidup modern juga ditengarai mampu mengusik ketenagan jantung dan pembuluh darah, hingga tubuh pun tidak bisa memiliki ketahanan yang prima. Kecemasan, depresi, gaya hidup yang serba instan, kemacetan dan di mana banyak individu mulai cenderung lebih banyak mengkonsumsi lemak  ataupun makanan dengan beragam zat kimiawi yang berbahaya turut pula menurunkan daya tahan tubuh. Maka, masalah akan bertambah kompleks bila disertai dengan bahaya yang ditimbulkan  pada jantung dari kebiasaan merokok; terlebih bila sang perokok selalu meminum teh dan kopi. Sesungguhnya pada saat itulah ia sedang menyumbat kerja jantung. Dengan demikian, seolah ia sedang mengarahkan diri pada suatu penyakit yang sangat berbahaya. Karena itu, sayangilah jantungmu wahai perokok!

Bahaya rokok pada kesehatan jantung dan pembuluh darah.

v      Mudah Lelah dan Hipertensi

Nikotin yang dihisap seorang perokok mampu mengeluarkan catecholamines dari tubuh, yakni kumpulan zat kimiawi yang sangat dibutuhkan tubuh. Diantaranya adalah hormon adrenalin.

Keluarnya adrenalin dalam jumlah besar ini mampu mempengaruhi kerja darah; diantaranya menyebabkan denyut jantung berdetak lebih cepat sekitar 15-20 kali lipat per menitnya dan berdampak pada meningkatnya tekanan  darah (hipertensi) sekitar 10-20 jenjang.

Hal ini mengindikasikan adanya kerja rodi organ jatung seorang perokok dalam menyalurkan darah ke semua organ tubuh lainnya sebagai imbas dari meningkatnya detakan yang diakibatkan oleh meningkatnya adrenalin yang keluar. Dengan demikian pula, kadar darah yang dibutuhkan pun meningkat untuk mengimbangi aktivitas yang besar. Dari sini muncul masalah lainya; bila pembuluh darah tidak sepenuhnya prima dan tidak mampu menyalurkan darah yang cukup ke organ jantung, maka secara tidak langsung, kerja jantung melemah dan tubuh pun tidak akan mampu melakukan tugas rutinitasnya dengan baik.

v  Infeksi pada Pembuluh Darah dan Rentan Terhadap Serangan Jantung

Adrenalin yang berlebihan bisa mempengaruhi kerja sel darah, yakni dengan membuatnya memiliki tingkat keasaman (free fatty acids) yang cukup tinggi, hingga darah pun menjadi kental. Kekentalannya membuatnya melekat pada dinding pembuluh darah layaknya kolesterol yang berlebih. Akibatnya pembuluh darah mengeras. Pembuluh darah yang mengeras adalah pembuluh darah yang memberi asupan nutrisi pada organ jantung. Hal ini berimbas pada terhambatnya nutrisi plus oksigen yang seharusnya diterima oleh organ jantung dari pembuluh darah  dan inilah yang memicu serangan jantung.

Bahaya lain yang ditimbulkan  dari kebiasaan merokok lainnya adalah keadaan kesakitan yang sangat hebat di punggung saat tubuh melakukan tugas berat dan bahkan secara perlahan bisa menyebabkan kematian bagi penderitannya bila tidak melepaskan diri dari ketergantungan  merokok dan tidak mengobatinya.

v  Baby blues dan kesulitan bernafas.

 Karbon monoksida adalah gas beracun yang dihasilkan dari pembakaran rokok; dan termasuk juga bahan yang sangat berbahaya dan merupakan limbah pabrik. Bila pada masa kini kita memerangi polusi lingkungan  termasuk di dalamnya memerangi peredaran karbon monoksida secara bebas dan sejenisnya maka secara tidak langsung seharusnya kita memerangi kebiasaan merokok di lingkungan kita. Suatu penelitian telah membuktikan bahwa gas karbon monoksida yang dihasilkan dari rokok 64 kali lebih banyak dari yang di perbolehkan peredarannya pada suatu pabrik yang mengeluarkan limbah dalam bentuk asap.

Bahaya yang ditimbulkan dari gas karbon monoksida ini adalah karena menghambat keberadaan oksigen yang dihirup melalui proses bernafas, sehingga tidak bisa disalurkan bersamaan dengan darah merah ke setiap organ tubuh. Dengan keberadaan gas karbon monoksida dalam tubuh berarti mengurangi kadar oksigen yang seharusnya disalurkan asupannya ke setiap organ tubuh yang membutuhkannya. Kadar gas karbon monoksida yang ada dalam tubuh perokok aktif berkisar 5-10 kali lipat dari kadar yang dibutuhkan tubuh. Dengan demikian, kesulitan bernafas akan kerap dialami oleh mereka yang merokok bahkan mereka pun akan mengalami “ baby blues”, yakni tampak membirunya beberapa organ tubuh, khususnya pada bibir dan permukaan lidah.

v  Menghambat  jalannya peredaran darah

 Rokok tidak hanya membahayakan pembuluh darah vena yang mengelilingi paru-paru saja, tapi juga membahayakan kapiler karena penyempitan dan penebalan yang ada padanya. Dengan kondisi tersebut, penyaluran darah dan oksigen ke otak mengalami hambatan yang kesemuanya itu disebabkan oleh hilangnya oksigen sebagai bias dari meningkatnya kadar karbon monoksida dalam aliran darah. Ujung dari semuanya itu adalah tubuh seorang perokok aktif akan tampak mudah lelah; ia akan selalu merasa pusing dan tidak mampu berkonsentrasi penuh.

Penyempitan pada kapiler ini menghambat nutrisi yang seharusnya diterima oleh organ lutut, hingga akhirnya aliran otot dalam tubuh tidak mampu melakukan tugasnya dengan baik dan darah pun tidak tersalurkan dengan baik pada organ kaki.

Sumber: Buku Tobat Merokok, Dr. Aiman Husaini

Bottom of Form
dr. noviana
Sebuah introspeksi diri dan wacana fatwa MUI tentang haram rokok
Mengkritisi sebuah siaran infotainment di salah satu televisi swasta tentang sebuah wacana fatwa MUI mengenai haramnya rokok bagi yang berusia 18 tahun ke bawah, membuat banyak orang yang menanggapi secara pro dan kontra. Sebuah dilematis tersendiri dimana seakan-akan dosa itu mengenal usia.
Sebelumnya mari kita bersama-sama kembali mendalami tentang rokok dan hukumnya di dalam Islam.
Rokok dan kandungannya….
Berikut ini adalah gambar dari kandungan dalam rokok :

Sedangkan racun utama pada rokok dan asap rokok adalah :
–          Tar adalah substansi hidrokarbon yang bersifat lengket dan menempel pada paru-paru
–          Nikotin adalah zat adiktif yang mempengaruhi syaraf dan peredaran darah. Zat ini juga bersifat karsinogen dan dapat memicu kanker paru-paru
–          Karbon monoksida adalah zat yang mengikat hemoglobin dalam darah, membuat darah tidak mampu mengikat oksigen sehingga tubuh menjadi kekurangan oksigen. Padahal oksigen disini sangat diperlukan  dalam kehidupan sel tubuh manusia.
Perlu diperjelas disini bahwa yang dimaksud dengan zat adiktif itu sama dengan candu. Orang yang mengkonsumsi zat ini akan membuatnya ketagihan/kecanduan dan menambah dosis/jumlah yang dia butuhkan.
Nikotin berpengaruh terhadap kepuasan di otak yang menyebabkan perokok terangsang pada tingkatan awal. Nikotin meningkatkan dopamine yang berhubungan dengan pusat emosi di otak. Sehingga banyak perokok yang seakan-akan merasa tenang, mendapat inspirasi setelah merokok atau menghilangkan stress. Tapi perlu diingat disini bahwa nikotin juga menyebabkan peningkatan denyut jantung, kontriksi (pengecilan) pembuluh darah dan kenaikan tekanan darah, serta peningkatan kepekatan asam lemak dalam darah yang menyebabkan sumbatan pembuluh darah arteri.
Beredarnya rokok dengan kadar nikotin rendah di pasaran, tidaklah menyelesaikan permasalahan karena nikotin ini merupakan zat adiktif, sehingga untuk mengikuti kebutuhan akan zat adiktif ini, seorang perokok justru cenderung menghisap roko lebih dalam, lebih keras dan lebih lama.
Ada sebuah istilah bijak tentang rokok bahwa Tidak ada batas aman bagi perokok dan bagi orang yang terpapar asap rokok.
Tar  apabila masuk ke dalam tubuh akan diubah oleh hati menjadi epoksida yang sangat berbahaya karena dapat mengakibatkan perubahan pada struktur DNA sehingga pertumbuhan sel menjadi tidak normal.
Vinyl chloride, benzo (a) pyrenes dan nitroso-nor-nicotine merupakan zat-zat karsinogen (pemicu kanker) yang terkandung dalam rokok. Survey dalam beberapa dekade menunjukkan bahwa satu-satunya penyebab mayoritas kanker paru-paru adalah asap rokok. Berikut ini adalah grafik-grafik dari berbagai penelitian menunjukkan korelasi positif dan sangat konsisten bahwa satu-satunya penyebab kanker paru-paru secara umum adalah konsumsi rokok (lihat file rokok21)
Kematian yang terjadi karena penyebaran kanker melalui peredaran darah sehingga posisi paru-paru menyebabkan kanker mudah menyebar ke seluruh tubuh.
Inilah data-data yang ada tentang rokok dan kandungannya.
Sekarang mari kita bersama-sama mendalami tentang hukumnya di dalam Islam
Berawal dari hadist :
“Setiap yang memabukkan itu adalah haram” H/R Muslim.
“Setiap sesuatu yang memabukkan maka bahan tersebut itu adalah haram”. H/R al-Bukhari, Muslim dan Abu Daud.
“Apa saja yang pada banyaknya memabukkan, maka pada sedikitnya juga adalah haram”. H/R Ahmad, Abu Daud dan Ibn Majah.
Rokok tidak dikenal dalam zaman Rasulullah, tidak seperti arak, tapi bukan berarti kita tidak menganalisis tentang kandungan rokok. Di atas telah diterangkan tentang nikotin dalam rokok yang merupakan zat adiktif/candu yang merupakan sejenis zat kimia yang memabukkan. Setiap yang memabukkan apabila dimakan, diminum, dihisap atau disuntik pada seseorang maka dikategorikan sebagai candu.
“Pasti akan berlaku di kalangan manusia-manusia dari umatku, meneguk (minum/hisap/sedut/suntik) arak kemudian mereka menamakannya dengan nama yang lain”. H/R Ahmad dan Abu Daud.
Memanglah rokok dan arak tidak sama pada ejaan dan rupanya, tetapi hukum dari kesan bahan yang memabukkan yang terkandung di dalam kedua-dua benda ini (rokok dan arak) tidak berbeda di segi syara karena kedua benda ini tetap mengandungi bahan yang memabukkan dan memberi kesan yang memabukkan kepada pengguna.
“Sesungguhnya syaitan termasuk hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran khamar/arak dan judi itu dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang. Apakah kamu tidak mau berhenti?”. Al Maidah:91.
Ada yang beranggapan bahwa rokok setaraf klasifikasinya dengan arak boleh dijadikan obat untuk mengurangi rasa tekanan jiwa, tekanan perasaan, kebosanan dan mengantuk. Sebenarnya rokok tidak pernah dibuktikan sebagai penawar atau dapat dikategorikan sebagi obat karena setiap benda haram apabila dibuktikan mengandung bahan memabukkan tidak akan menjadi obat, sebagaimana hadits Nabi s.a.w: “Telah berkata Ibn Masoud tentang benda yang memabukkan : Sesungguhnya Allah tidak akan menjadikan obat bagi kamu pada benda yang Ia telah haramkan kepada kamu”. H/R al-Bukhari.
“Sesungguhnya arak itu bukan obat tetapi penyakit”. H/R Muslim dan Turmizi.

Dari data-data diatas telah tampak jelas bahwa rokok beserta kandungannya tidak membawa efek positif  bagi umat manusia justru menjadi mudharat dan harus kita tinggalkan.
Apakah kamu tidak mau berhenti?”. Al Maidah:91.
Mari kita sama-sama introspeksi dan menilai secara obyektif tentang hukum rokok.
Apakah kita akan mendukung fatwa MUI tentang haramnya rokok bagi yang berusia 18 tahun ke bawah? Lalu bagaimana dengan perokok yang berusia di atas 18 tahun?
Apakah kita harus terus berdiam diri saat di samping kita atau di sekitar kita ada orang yang merokok? Apakah kita mau menjadi perokok pasif? Apakah kita mau dirugikan oleh orang lain yang jelas-jelas merugikan kesehatan kita?

Pro dan kontra terus mengalir diiringi kebijakan-kebijakan. Industri rokok yang terancam musnah diikuti dengan polemik adanya banyak pengangguran. Polemik yang dibuat oleh sebagian yang tidak bisa lepas dari candu rokok. Polemik yang dibuat oleh sebagian yang merasa terganggu oleh asap rokok. Polemik tentang….
Mari kita sama-sama berpikir dan tegas terhadap apa yang baik untuk kita dan lingkungan kita. Masih perlukah fatwa MUI bila kita sendiri sudah bisa menentukan tentang hukum rokok dan mengambil keputusan terbaik dalam kehidupan kita.
Allohu a’lam. 

 PENGGUNAAN OBAT BEBAS PADA KEHAMILAN
Obat bebas adalah obat jadi yang dapat diperoleh secara bebas, tanpa resep dokter. Penggunaan obat bebas harus tepat, baik peruntukkannya (indikasi, jenis penyakit atau gangguan kesehatan yang diobati) maupun kondisi pasiennya agar dapat diperoleh efek yang diharapkan secara maksimal dan meminimalkan efek yang tidak diharapkan.  Penggunaan obat bebas pada wanita hamil harus memperhitungkan keberadaan obat di dalam tubuh janin karena beberapa jenis bahan aktif dalam obat bebas mudah diserap dan didistribusikan ke seluruh tubuh, termasuk janin di dalam kandungan. Keberadaan obat di dalam tubuh janin dapat menimbulkan efek yang merugikan pada janin dalam kandungan.
 OBAT NYERI
        Paling aman untuk ibu hamil : Parasetamol atau acetaminophen. Efektif untuk nyeri yang tajam. Kerusakan pada hati akibat parasetamol hanya terjadi pada dosis besar (Katzung, 1998).
        NSAIDs (Non steroidal anti-inflammatory drugs) : mefenamat, ketofenamat, indometasin, diklofenak, ibuprofen, ketoprofen, naproxen dan asetosal dapat menyebabkan efek samping lebih banyak daripada parasetamol, sebaiknya tidak digunakan pada wanita hamil apalagi tidak ada tanda radang atau inflamasi.
        Asetosal atau aspirin jangan diberikan pada wanita hamil terutama hamil tua karena dapat menyebabkan ulkus lambung, nyeri ulu hati dan menghambat pembekuan darah sehingga perdarahan sukar berhenti yang akan membahayakan wanita hamil pada periode dekat dengan saat persalinan (Hauth et al.,1995; Katzung, 1998; Macones et al., 2001).
        Indometasin biasanya diberikan pada wanita hamil untuk nyeri leiomioma degeneratif atau sebagai tokolitik. Efek samping : dapat menyebabkan oligohidramnion dan penutupan duktus arteriosus lebih dini yang berakibat timbul hipertensi sirkulasi kecil (hipertensi pulmonal), nefrotoksik pada fetus dan hemoragia periventrikuler (Macones et al., 2001).  
OBAT PELEGA HIDUNG TERSUMBAT (DEKONGESTAN)
Pseudoefedrin jangan diberikan pada wanita hamil trimester pertama karena dapat menimbulkan gastroschisis akibat vasokonstriksi yang dapat berpengaruh pada aliran darah ke janin (Werler et al. 1992; Smith et al., 1990). Pseudoefedrin dapat digunakan pada wanita hamil asal tidak pada trimester pertama kehamilan (Black and Hill, 2003). 
OBAT ANTI ALERGI
        Yang dianjurkan untuk wanita hamil : Klorfeniramin dan tripenelamin (Black and Hill, 2003).
        Difenhidramin sebagai obat batuk akibat alergi tidak dianjurkan untuk wanita hamil pada trimester pertama karena dapat menimbulkan palatoschisis (Theis and Koren, 1997). Pada dosis besar, difenhidramin dapat meningkatkan kontraksi uterus (Brost et al., 1996).   
OBAT DIARE
        Penggunaan kaolin, pectin dan atapulgit umumnya tidak memepengaruhi kehamilan. Tetapi penggunaan kaolin jangka lama dapat menghambat absorpsi zat besi sehingga dapat menimbulkan anemia (Patterson and Staszak, 1977).
        Loperamid pada wanita hamil trimester pertama pernah dilaporkan insidensi malformasi jantung pada janin dalam kandungan (Thein and Koren, 1997; Briggs et al, 1998) 
OBAT MAAG
        Antasida berisi campuran antara Alumunium hidroksida dan Magnesium hidroksida. Penggunaan alumunium hidroksida jangka lama dapat menyebabkan gangguan perkembangan janin dalam kandungan tetapi beberapa ahli menilai datanya tidak valid (Gilbert-Barness et al., 1998). Sedangkan magnesium hidroksida yang mempunyai efek tokolitik tidak merugikan kehamilan (Black and Hill, 2003).
        Obat penghambat sekresi asam lambung golongan H2 blockers seperti simetidin, ranitidine, famotidin dan nizatidin).

SKABIES
Skabies adalah penyakit kulit yang mudah menular. Orang jawa sering menyebutnya gudig. Penyebabnya adalah Sarcoptes scabei. Cara penularan penyakit ini adalah melalui kontak langsung dengan penderita atau tidak langsung melalui alat-alat yang dipakai penderita, misal : baju, handuk, dll.
Gejala klinis yang sering menyertai penderita adalah :
Gatal yang hebat terutama pada malam hari sebelum tidur
Adanya tanda : papula (bintil), pustula (bintil bernanah), ekskoriasi (bekas garukan), bekas-bekas lesi yang berwarna hitam
Dengan bantuan loup (kaca pembesar), bisa dilihat adanya kunikulus atau lorong di atas papula (vesikel atau plenthing/pustula)
Predileksi atau lokasi tersering adalah pada sela-sela jari tangan, bagian fleksor pergelangan tangan, siku bagian dalam, lipat ketiak bagian depan, perut bagian bawah, pantat, paha bagian dalam, daerah mammae/payudara, genital, dan pinggang.
Pada pria khas ditemukan pada penis sedangkan pada wanita di aerola mammae. Pada bayi bisa dijumpai pada daerah kepala, muka, leher, kaki dan telapaknya.
Pemariksaan adanya skabies atau Sarcoptes scabei dengan cara :
Melihat adanya burrow dengan kaca pembesar
Papula, vesikel yang dicurigai diolesi pewarna (tinta) kemudian dicuci dengan pelarutnya sehingga terlihat alur berisi tinta
Melihat adanya sarcoptes dengan cara mikroskopis, yaitu ;
Atap vesikelnya diambil lalu diletakkan di atas gelas obyek terus ditetesi KOH 30%, ditutup dengan gelas penutup dan diamati dengan mikroskop.
Papula dikorek dengan skalpel pada ujungnya kemudian diletakkan pada gelas obyek lalu ditutup dan diamati dengan mikroskop.
Pengobatan skabies yang terutama adalah menjaga kebersihan untuk membasmi skabies (mandi dengan sabun, sering ganti pakaian, cuci pakaian secara terpisah, menjemur alat-alat tidur, handuk tidak boleh dipakai bersama, dll)
Obat antiskabies yang sering dipakai adalah :
Preparat yang mengandung belerang
Emulsi benzoate benzilicus 25%
Gamma benzene hexachloride 0,5%-1%

WAHAM/DELUSI
Semaraknya aliran sesat saat ini, membuat saya ingin sekali mengungkapkan apa itu waham atau delusi. Dalam ilmu kedokteran jiwa, dikatakan bahwa waham sering dijumpai pada penderita gangguan mental yang merupakan salah satu dari gejala gangguan isi pikir. Waham atau delusi merupakan keyakinan palsu yang timbul tanpa stimulus luar yang cukup dan mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : Tidak realistik, Tidak logis, Menetap, Egosentris, Diyakini kebenarannya oleh penderita, Tidak dapat dikoreksi, Dihayati oleh penderita sebagai hal yang nyata, Penderita hidup dalam wahamnya itu, Keadaan atau hal yang diyakini itu bukan merupakan bagian sosiokultural setempat Waham ada berbagai macam, yaitu :
Waham kendali pikir (thought of being controlled). Penderita percaya bahwa pikirannya, perasaan atau tingkah lakunya dikendalikan oleh kekuatan dari luar.
Waham kebesaran (delusion of grandiosty). Penderita mempunyai kepercayaan bahwa dirinya merupakan orang penting dan berpengaruh, mungkin mempunyai kelebihan kekuatan yang terpendam, atau benar-benar merupakan figur orang kuat sepanjang sejarah (misal : Jendral Sudirman, Napoleon, Hitler, dll).
Waham Tersangkut. Penderita percaya bahwa setiap kejadian di sekelilingnya mempunyai hubungan pribadi seperti perintah atau pesan khusus. Penderita percaya bahwa orang asing di sekitarnya memperhatikan dirinya, penyiar televisi dan radio mengirimkan pesan dengan bahasa sandi.
Waham bizarre, merupakan waham yang aneh. Termasuk dalam waham bizarre, antara lain : Waham sisip pikir/thought of insertion (percaya bahwa seseorang telah menyisipkan pikirannya ke kepala penderita); waham siar pikir/thought of broadcasting (percaya bahwa pikiran penderita dapat diketahui orang lain, orang lain seakan-akan dapat membaca pikiran penderita); waham sedot pikir/thought of withdrawal (percaya bahwa seseorang telah mengambil keluar pikirannya); waham kendali pikir;waham hipokondri 
Waham Hipokondri. Penderita percaya bahwa di dalam dirinya ada benda yang harus dikeluarkan sebab dapat membahayakan dirinya.
Waham Cemburu. Cemburu disini adalah cemburu yang bersifat patologis
Waham Curiga. Curiga patologis sehingga curiganya sangat berlebihan
Waham Diancam. Kepercayaan atau keyakinan bahwa dirinya selalu diikuti, diancam, diganggu atau ada sekelompok orang yang memenuhinya.
Waham Kejar. Percaya bahwa dirinya selalu dikejar-kejar orang
Waham Bersalah. Percaya bahwa dirinya adalah orang yang bersalah
Waham Berdosa. Percaya bahwa dirinya berdosa sehingga selalu murung
Waham Tak Berguna. Percaya bahwa dirinya tak berguna lagi sehingga sering berpikir lebih baik mati (bunuh diri)
Waham Kiskin. Percaya bahwa dirinya adalah orang yang miskin.

ROSEOLA INFANTUM
Penyakit yang ini sering diderita pada bayi dari usia 6 bulan sampai 3 tahun. Penyakit ini sempat membuat para ibu khawatir dan cemas berlebihan, karena pada awalnya (fase prodromal) anak ini mengalami panas tinggi 39,4-40,6° Celsius. Bahkan, 5-15% diantara mereka mengalami kejang disebabkan demam.
Roseola infantum merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus herpes tipe 6 dan 7. Virus ini disebarkan melalui percikan ludah penderita. Masa inkubasi (masa dari mulai terinfeksi sampai timbulnya gejala) adalah sekitar 5-15 hari.
Biasanya penyakit ini berlangsung selama 1 minggu.
Bisa terjadi pembengkakan kelenjar getah bening di belakang kepala, leher sebelah samping dan di belakang telinga. Limpa juga agak membesar.
Pada hari keempat, demam biasanya mulai turun.
Sekitar 30% anak memiliki ruam (kemerahan di kulit), yang mendatar maupun menonjol, terutama di dada dan perut dan kadang menyebar ke wajah, lengan dan tungkai.
Ruam ini tidak menimbulkan rasa gatal dan berlangsung selama beberapa jam sampai 2 hari.
Disinilah yang harus diperhatikan, pada roseola infantum ruam ini muncul setelah demam reda. Sedangkan pada campak, ruam ini muncul saat penderita masih demam.
Karena penyakit ini disebabkan oleh virus, maka pengobatan dengan antibiotik tidak diperlukan. Terapi pada kasus ini hanyalah untuk menurunkan demamnya. Pemberian asetaminofen atau parasetamol atau ibuprofen relatif aman untuk menurunkan demam. Sedangkan, pemberian aspirin pada anak-anak sangat tidak dianjurkan karena bisa menyebabkan sindroma Reye. Sebaiknya anak dikompres dengan menggunakan handuk atau lap yang telah dibasahi dengan air hangat (suam-suam kuku). Jangan menggunakan es batu, air dingin, alkohol maupun kipas angin.
Usahakan agar anak minum banyak air putih atau potongan-potongan es batu, larutan elektrolit atau kaldu. Selama demam, sebaiknya anak menjalani tirah baring.
Bila anak mengalami kejang demam, segera hubungi rumah sakit atau dokter terdekat untuk penanganan kejang. Intinya, jangan panik dan tetap tenang. Jika penyakit ini terjadi pada pasien dengan sistem kekebalan rendah, maka dokter sering memberikan obat antiviral supaya tidak bertambah parah.
ENDOMETRIOSIS
Endometrium merupakan jaringan yang membatasi bagian dalam rahim. Tetapi apabila endometrium ini kemudian berada tidak pada tempatnya misal di saluran telur, ini bisa menimbulkan bahaya. Inilah yang sering kita sebut dengan endometriosis. Berdasarkan letaknya, endometriosis ini dibagi menjadi dua yaitu : Endometriosis interna dan Endometriosis eksterna. Endometriosis interna (adenomyosis) adalah penyakit yang disebabkan adanya jaringan endometrium di dalam myometrium. Sedangkan, endometriosis eksterna merupakan penyakit yang disebabkan adanya jaringan endometrium di luar rongga rahim (tuba faloppi, ovarium, dsb). Bagaimana bisa jaringan endometrium yang seharusnya ada di dalam rahim, kok bisa keluar ya? Bicara masalah penyebab, kita tidak pernah tahu pasti. Tapi menurut teori yang ada, banyak kemungkinan yang ada yaitu :
Menstruasi retrograd, di mana sebagian aliran darah menstruasi dari rahim keluar ke rongga perut melalui tuba
Gangguan sistem kekebalan yang memungkinkan sel-sel endometrium melekat dan berkembang
Kelainan genetis
Jaringan endometrium menyebar melalui sistem kelenjar getah bening dan aliran darah
Faktor lingkungan, misalnya paparan terhadap dioxin
Gejala yang sering timbul :
Nyeri, hebatnya nyeri ditentukan oleh lokasi endometriosis
nyeri pada saat menstruasi
nyeri selama dan sesudah hubungan intim
nyeri ovulasi nyeri pada pemeriksaan dalam oleh dokter
Perdarahan
perdarahan banyak dan lama pada saat menstruasi
spotting sebelum menstruasi
menstruasi yang tidak teratur
darah menstruasi yang berwarna gelap yang keluar sebelum menstruasi atau di akhir menstruasi
Keluhan buang air besar dan kecil
nyeri pada saat buang air besar
darah pada feces
diare, konstipasi dan kolik
nyeri sebelum, pada saat dan sesudah buang air kecil
Endometrium yang ada pada endometriosis ini bisa masih aktif berfungsi tetapi bisa juga non-aktif. Bila ternyata masih aktif, maka akan mengikuti siklus menstruasi, setiap bulan jaringan di luar rahim ini mengalami penebalan dan perdarahan. Perdarahan ini tidak mempunyai saluran keluar seperti darah menstruasi, tapi terkumpul dalam rongga panggul dan menimbulkan nyeri. Jaringan endometriosis dalam ovarium menyebabkan terbentuknya kista coklat. Akibat peradangan jaringan secara kronis, terbentuk jaringan parut dan perlengketan organ-organ reproduksi. Sel telur sendiri terjerat dalam jaringan parut yang tebal sehingga tidak dapat dilepaskan. Sepertiga penderita endometriosis tidak mempunyai gejala apapun selain infertilitas. Infertilitas yang terjadi pada endometriosis ini disebabkan karena :
Parameter Hormonal. Dibandingkan dengan siklus normal, fase folikular penderita endometriosis lebih singkat, kadar estradiol lebih rendah, dan nilai puncak produksi LH (LH surge) berkurang. Folikel yang terbentuk pada saat LH surge cenderung berukuran lebih kecil.
Luteinized Unruptured Follicle Syndrome (LUF). LUF adalah kegagalan pelepasan sel telur dari ovarium.
Pengaruh Peritoneal. Pada penderita endometriosis ditemukan peningkatan jumlah dan aktivitas cairan peritoneum dan makrofag peritoneum.
Sistem Kekebalan. Endometriosis mempengaruhi sistem kekebalan dan secara langsung bisa mengakibatkan infertilitas.
Produksi Prostaglandin. Prostaglandin diduga dihasilkan oleh sel-sel endometriosis muda, menyebabkan spasme atau kontraksi otot. Akibat pengaruh prostaglandin, tuba menjadi kaku dan tidak dapat mengambil sel telur yang dihasilkan ovarium serta terjadi penolakan perlekatan janin dalam rahim. Selain itu gerakan sperma juga berkurang sehingga mempengaruhi kemampuannya menembus sel telur.
Turn Site Previews Off

Rokok dan remaja

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.